in Agama

Dialektika Diri Tanpa Henti, Navicula Dan Din Syamsudin

Sebagai seorang hamba Allah maka wujud paling mulia untuk memunajatkan rasa syukur atas semua itu adalah dengan di pegang selalu sikap mengupayakan agar kita berjalan tepat di jalan yang telah dikehendakiNya.

Tidak ada kata berhenti untuk terus menjadi insan yang bermanfaat, baik kepada Allah dan kepada manusia selama nafas belum menemui titik habisnya. Momen bulan suci kemarin adalah momen yang perlu dijadikan satu pengingat bahwa sejatinya kita, selain mendapatkan bulan yang penuh berkah maka kita juga, diberi amanat untuk dapat mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut selepas semua berlalu.

Hal tersebut bisa berupa hikmah menghargai waktu, hikmah saling bertemu sapa dengan teman dan sanak saudara, atau hikmah agar kita meningkatkan ilmu agar lebih dekat degan pencipta.

Semua hal diatas mungkin menjadi satu poin penting bagi individu itu tersendiri namun rasanya tiada bermakna kalau tidak dijadikan satu pelajaran bahwa hidup tidaklah seorang diri. Seorang ibnu khaldun pernah mengatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah membutuhkan kehidupan yang bermasyarakat.

Dalam hal ini saya juga pernah mendapati suatu pernyataan menarik yang datang dari pentolan grup band grunge Indonesia, Navicula, yang mengatakan bahwa:

“kalau misal ajaran Islam hanya untuk hubungan manusia sesama pencipta maka pada waktu itu, ketika Nabi Muhammad SAW melakukan Isra Mi’raj dan diberikan suatu penglihatan atas keadaan syurga yang tak terhingga, mungkin Nabi Muhammad SAW tidak akan kembali lagi ke bumi.

Namun kenyataannya, kita dapati pada beberapa kitab sirah, Nabi Muhammad SAW, yang mulia itu, kembali menjadi insan yang benar-benar diberi suatu motivasi kemanusiaan yang luar biasa, ia adalah penjelmaan dari manusia yang bermanfaat adalah manusia yang berbuat baik bagi sesama manusia meski prosesnya memang senantiasa berliku.

Dialektika Diri Yang Tanpa Henti dan Din Syamsudin

11311132_1444509145857377_2146066734_n

Din Syamsudin pada acara peresmian gedung PDM Bandung

Sungguh merupakan kesempatan yang luar biasa bisa sedekat dan tak terhindar jarak dengan beliau, Din Syamsudin. Manakala diadakan acara silaturahim dan pengajian setelah Idul Fitri sekaligus acara peresmian gedung baru PDM Bandung.

Sebagai seorang pemimpin organisasi Muhammadiyah rasanya beliau memang pemimpin hebat, ini memang bisa dilihat dan didengar ketika beliau memberikan nasihat-nasihat yang luar biasa sekali, mudah dicerna dan sangat-sangat mengena.

Apa yang tertulis dalam beberapa kolom majalah sangat serupa dengan apa yang diterangkan ketika diwujudkan dalam sebuah ceramah. Hemat saya ini bukanlah alasan tidak adanya lagi tema menarik yang harus di bahas oleh beliau akan tetapi hal ini jelas merupakan satu komitmen dan gagasan yang selalu dipegang oleh beliau dalam rangka mewujudkan islam yang berkemajuan.

Meski akan menjadi sesuatu yang kurang bila saya sajikan semua hal yang di amanatkan oleh beliau dalam wujud tulisan ini. Ini terjadi karena beberapa hal teknis seperti saya lupa untuk membawa notes atau beberapa lembar kertas untuk mencatat poin-poin penting.

Akan tetapi beberapa hal masih setia saja membekas dalam pikiran dan semoga saja bekas-bekas tersebut menjadi sebuah hal yang terus berlanjut ketika saya menuliskan kembali kepada sebuah tulisan singkat ini.

Syahdan hal ini masih terkait dengan hikmah yang didapat setelah Ramadan. Menurut beliau bulan Ramadan adalah bulan yang memberikan satu momen berharga untuk terus memotivasi diri agar upaya menuju ketakwaan tak pernah terhenti.

Menghargai waktu, memahami kembali esensi hubungan antara manusia dengan Allah dan hubungan manusia dengan sesama manusia serta yang terakhir adalah mengupayakan diri ini agar terus menjadi pribadi yang merdeka.

Barangkali teman pembaca pun sudah mengenal betul bahwa selama kita melakukan puasa, bila orang-orang yang khidmat melakukannya, maka waktu itu adalah hal yang benar-benar menjadi perhatian.

Untuk mengisi maghrib yang ditunggu, imsyak yang ditunggu, siang yang dipikirkan dan sebagainya, maka tak lain memanfaatkan kesenggangan tersebut adalah dengan menjadikan momen setiap waktu tersebut agar berguna.

Kita benar-benar dilatih untuk menjadi pribadi yang harus menghargai waktu dengan sebaik-baiknya. Barangkali sangat jelas bahwa perumpamaan bila waktu tidak dimanfaatkan maka ia akan menebasmu adalah suatu ungkapan yang awalnya bermuara pada peringatan-peringatan penting yang datang dari Al-quran Al Karim: Demi masa, demi waktu, demi malam hari,dan lain-lain.

Yang kedua adalah pemahaman kembali mengenai kehidupan, baik itu penghambaan manusia terhadap sang pencipta dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Kalau merunut dalam bahasa tulisan pak Din hal inilah yang sejatinya harus di upayakan agar bisa mewujudkan islam yang rahmatan lil’Alamin.

Meminjam kasus kerusuhan Tolikara yang terjadi pada saat beberapa lalu, beliau berpendapat bahwa ini adalah salah satu kegagalan, bukan hanya secara hukum, akan juga hubungan kemanusiaan dan keberagaman disana. Alias gagal paham dengan apa yang tersirat dari hubungan kedua tersebut.

Kalau misal memang menjunjung tinggi keberagaman dalam kebersamaan maka hal tersebut tidak seharusnya terjadi. Meski saya tidak menafikan ada alasan-alasan lain yang menjadi hal itu terjadi tapi barangkali konflik perbedaan rasanya adalah satu ekses, yah seperti air bensin bila ada pemicu sedikitpun maka “dor” akan meledak tak terhingga pada saatnya.

Sejatinya selain kita harus terus mengupayakan diri agar terus menjadi manusia yang bertakwa agar bisa sedekat terus dengan Allah maka hal lain yang harus diupayakan adalah menghargai kehidupan manusia dan alam semesta.

Habluminallah dan habluminannas hemat Pak Din akan bertemu ketika manusia tidak saja mengaktualisasikan diri melakukan aktifitas keseharian yang manusiawi, terlebih ia harus mengupayakan agar lebih dari itu.

Karena tertulis habluminannas dan tidak hablumminalmuslimin wal mukminin maka mempunyai pandangan kebersamaan dalam keberagaman tanpa pandang melihat siapa orang tersebut, agama apa mereka, berasal dari mana mereka adalah sebuah keharusan dengan batasan toleransi yang sewajarnya.

Kita menghargai perbedaan karena memang Allah menciptakan manusia berbeda-beda tapi jelas juga bahwa pandangan bagimu agamamu bagiku agamaku adalah suatu sikap penting yang harus dimengerti.

Dan yang terakhir adalah dialektika diri yang tanpa henti. Seperti sudah dijelaskan diatas bahwa sebagai seorang hamba maka sebagai wujud dari rasa syukur tersebut adalah dengan beribadah tanpa henti untuk mencapat ketakwaan.

Bulan puasa memang berlalu dan kita, insyaAllah mendapatkan suatu hikmah besar, dengan adanya suatu momen penyucian diri selama rentang tersebut. Selepas Ramadan berlalu apakah semua itu terhenti? Adalah tidak sebagai jawabannya.

Malahan momen sebenarnya dari adanya bulan Ramadan adalah seberapa besar hikmah yang didapat itu diaktualisasikan pada masa setelahnya. Ibaratnya bulan ramadan adalah piranti yang membuat kita terang laksana emas maka selanjutnya adalah bagaimana kita belajar berbagi terangnya tersebut terhadap sesama manusia.

Allah maha mengetahui atas segala sesuatu setelahnya.

Kesimpulan

Syahdan diatas adalah pesan yang sangat bermanfaat dalam rangka mewujudkan kehidupan yang beragam di Indonesia ini. Bersikap seharusnya terhadap pencipta adalah sebuah ketentuan yang harus dilaksanakan bagi hambanya karena sejatinya semua orang menginginkan menjadi pribadi yang baik.

Akan tetapi bersikap semestinya pada apa yang Allah ciptakan juga adalah sikap yang harus diperhatikan, terlebih pada hal kemanusiaan. Lil’Alamin mempunyai makna alam semesta, karena alam juga punya jiwa, dengan begitu apalagi ciptaanNya yang bernyawa. Setidaknya dengan seperti itu, kita sedikit demi sedikit bisa memahami kandungan dari arti “Dari Tuhan Manusia dan kemanusiaan”.

Sungguh diatas semua itu Allah adalah sebenar-benarnya Dzat yang terhebat.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment