Dari Ibnu Khaldun Tentang Imam Mahdi

Ibnu Khaldun adalah salah satu sarjana besar yang pernah dimiliki oleh ummat Islam di dunia.  Kecemerlangan dan kepintarannya bisa kita baca sendiri dalam bukunya Muqaddimah. Dan juga telah berkat buku itulah banyak para ilmuwan diseluruh dunia menjadi terinspirasi. Hidup beliau mungkin tidak sezaman dengan kita tetapi perlu diingat bahwa beliau adalah salah seorang ilmuwan yang melampaui zamannya. Dengan mahakarya yang ditulisnya, – Muqaddimah – ia dikenal brilian oleh orang barat dan juga timur sebagai seorang historiography.

Muqaddimah memuat hal ihwal tentang pembenaran beliau terhadap nukilan-nukilan yang tiada tanpa alasan yang jelas dan peradaban manusia pada umumnya. Penegasannya dibarengi dengan alasan-alasan yang masuk akal. Semua yang ditulis oleh beliau InsyaAllah masih relevan untuk dipelajari lagi di zaman sekarang.

Salah satu perbincangan yang menurut saya menarik dari salah satu judul yang beliau tulis adalah tentang Imam Mahdi. Bukanlah tanpa alasan mengapa saya memilih subtulisan ini akan tetapi permasalahan ini seringkali menimbulkan dan perbedaan diantara ummat Islam itu sendiri. Sebagian ada yang benar-benar percaya kepada Mahdi dan sebagian ada yang menganggap hal itu melemahkan sikap semangat jihad kita. 1

Berikut saya akan salinkan pendapat Ibnu Khaldun tentang Imam Mahdi. Semoga dengan pencermatan dan logika berpikir dialektis pembaca, tulisan ini akan senantiasa bermafaat untuk direnungi kembali, dipertanyakan kembali didalam hati.

Ibnu Khaldun; Mahdi. Pendapat manusia tentang dia. Kebenaran masalah ini. 2

Telah diterima ole kaum muslimin, bahwa pada akhir zaman seorang keluarga Nabi Muhammad pasti akan muncul memperkuat islam dan, dan menampakan keadilan. Kaum muslimin mengikutinya, dan dia akan menguasai kerajaan-kerajaan Islam. Dia akan disebut Mahdi. Dajjal akan muncul mengikutinya, bersama dengan semua tanda akan datangnya hari kiamat yang telah ditentukan didalam hadits-hadits Shahih. Setelah Mahdi, Isa akan muncul, sera membantunya membunuh Dajjal.

Pernyataan ini telah ditemukan didalam tradisi para pemuka muslim yang telah diterbitkan. Secara kritis mereka diperbincangkan oleh orang-orang yang selalu menentang sebagian dari tradisi tersebut. Ahli-ahli sufi mutakhir memilik teori dan kesimpulan lain berkenaan dengan Mahdi ini. Mungkin dalam hal ini, mereka bertolak dari kasyf yang merupakan sumber teori mereka…… 3

Waktu, orang, dan tempat secara jelas mereka terangkan berdasarkan dalil dugaan dan kesimpulan yang berbeda-beda. Waktu yang diramalkan telah berlalu, dan tak terlihat isyarat bahwa ramalan itu berlaku. Kemudian, saran-saran baru diserap berdasarkan dugaan linguistik, gagasan imajiner, dan hukum-hukum astrologis. Umur orang semacam itu dihabiskan demi anggapan-anggapan tersebut.

Sedangkan para sufi, yang hidup semasa dengan kita, kebanyakan menuju pada munculkan seorang mujaddid, yang memperbarui hukum-hukum Islam dan ordonansi kebenaran. Mereka berasumsi bajwa kemunculannya akan berlangsung beberapa waktu dekat dengan periode kita. Sebagian mereka menyatakan bahwa dia akan berasalah dari putra Fatimah. Sebagian lagi berbicara tentang dia hanya dalam istilah umum. Kita dengan sekelompok sufi, yang paling besar diantara mereka adalah Abu Ya’Qub, telah menceritakan kepada kita tentang kakeknya. Dia mengetahuinya dari kebenaran dari ayahnya, Abu Muhammad Abdullah.

Kebenaran yang harus diketahui ialah bahwa da’wah agama dan propaganda kedaulatan tidak akan berhasil kecuali melalau kekuatan solidaritas sosial, syawkah ‘ashabiyah, yang mendukung da’wah atau propaganda tersebut, serta melindungi agama dan kedaulatan dari para penyerangnya, sehingga kekuasaan Allah terlaksana didalamnya. Sebelum ini kita telah menyebutkannya dengan bukti-bukti kuat.

Solidaritas sosial Bani Fatimi, bahkan solidaritas sosial Quraisy seluruhnya, telah hancur disegala tempat. Ada bangsa lain yang solidaritas sosial mereka telah mengalahkan solidaritas sosial Quraisy, kecuali sisa-sisa Bani Thalib – yaitu Bandi Hasa, Bani Husain, dan Bani Ja’far – di Hijaz, di Mekah, dan Yanbu’ di Medinah. Mereka tersebar dan berkuasa di kota-kota itu. Mereka digalang oleh solidaritas badawi, dan tinggal terpencar serta berkuasa di berbagai tempat, serta mencakup pendapat yang menyimpang jumlah mereka ada beberapa ribu.

Jika benar Mahdi akan muncul, hanya ada satu cara yang didapat membuat propagandanya muncul. Dia harus salah seorang diantara mereka, dan Allah harus mempersatukan mereka supaya  menjadi pengikutnya, hingga dia menghimpun kekuatan, syawkah, dan solidaritas sosial, ‘ashabiyah, yang cukup untuk menyatukan kata dan menggerakan rakyat. 4

Tanpa cara demikian – misalnya seorang Fatimi hendak mempropagandakan diri sebagai Mahdi dikalangan rakyat dimanapun juga, dan tanpa dukungan solidaritas sosial dan kekuatan, kecuali dari hubungan kekeluargaan dengan Muhammad tak mungkin itu terjadi dan berhasil, karena alasan-alasan logis yang telah kita kemukakan didepan.

Orang-orang awam, orang-orang bodoh, yang membuat pernyataan sehubungan dengan Mahdi, dam yang tidak menyertai pernyataannya itu dengan pemikiran atau pengetahuan berasumsi bahwa Mahdi dapat muncul di suatu situasi dan tempat. Mereka tidak mengetahui hakikat masalah. Kebanyakan mereka berasumsi bahwa kemunculan itu terletak dibeberapa provinsi yang jauh di luar kerajaan dan diluar kekuasaan raja-rajanya, seperti az-Zab di Ifriqiyah dan as-Sus di Magribi. . Karenya, mereka dengan yakin beranggapan bahwa Mahdi akan muncul disana, ketika daerah-daerah ini tidak berada di bawah kontrol negara, dan diluar jangkauan hukum. Hanya demikian puncak pemikiran mereka. Mungkin sudah banyak orang yang lemah akal pergi ke tempat tersebut dengan tujuan mendukung suatu alasan yang mengecohkan, bahwa jiwa manusia dan khayalan dan kebodohannya menggiring mereka untuk mempercayai sesuatu. Kebanyakan dari mereka telah dibunuh. . .

Referensi:

  1. Hamka. Membahas Soal Islam:426
  2. Ibnu Khaldun, Muqaddimah:386
  3. Ibnu Khaldun menyebutkan hadits-hadits mengenai Mahdi, berikut penentang-penentangnya lengkap dengan dalil masing-masing. Diikuti dengan keterangan mengenai pendapat kaum sufi. Keterang panjang ini kami lepas dari edisi terjemahan kita
  4. Adakah sesuatu yang mendekati hal itu sekarang ini?

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

2 thoughts on “Dari Ibnu Khaldun Tentang Imam Mahdi”

    1. Pada awalnya pun saya merasa seperti itu kang Usup. Namun seiring waktu berjalan sedikit demi sedikit keyakinan itu seolah memudar. Dengan berbagai alasan tentunya. Saya sempat sekilas melihat komentar-komentar kang Usup ketika berargumen tentang ini 😀 hihihi
      Apabila berkenan tuliskanlah kembali disini kang usup.. 😛

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *