Dialektika Diri Tanpa Henti, Navicula Dan Din Syamsudin

Sebagai seorang hamba Allah maka wujud paling mulia untuk memunajatkan rasa syukur atas semua itu adalah dengan di pegang selalu sikap mengupayakan agar kita berjalan tepat di jalan yang telah dikehendakiNya.

Tidak ada kata berhenti untuk terus menjadi insan yang bermanfaat, baik kepada Allah dan kepada manusia selama nafas belum menemui titik habisnya. Momen bulan suci kemarin adalah momen yang perlu dijadikan satu pengingat bahwa sejatinya kita, selain mendapatkan bulan yang penuh berkah maka kita juga, diberi amanat untuk dapat mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut selepas semua berlalu.

Hal tersebut bisa berupa hikmah menghargai waktu, hikmah saling bertemu sapa dengan teman dan sanak saudara, atau hikmah agar kita meningkatkan ilmu agar lebih dekat degan pencipta.

Semua hal diatas mungkin menjadi satu poin penting bagi individu itu tersendiri namun rasanya tiada bermakna kalau tidak dijadikan satu pelajaran bahwa hidup tidaklah seorang diri. Seorang ibnu khaldun pernah mengatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah membutuhkan kehidupan yang bermasyarakat.

Dalam hal ini saya juga pernah mendapati suatu pernyataan menarik yang datang dari pentolan grup band grunge Indonesia, Navicula, yang mengatakan bahwa: Continue reading Dialektika Diri Tanpa Henti, Navicula Dan Din Syamsudin

Review The Oxford History of Islam: John Esposito

PENDAHULUAN

Untitled-1
Cover book

Buku yang berjudul The Oxford History of Islam menceritakan tentang beberapa hal yang berhubungan dengan Islam. Setiap bagiannya, meski tidak berurut, namun memiliki tema yang erat berkelindan.

Ada yang menjelaskan pembahasan sejarah peradaban islam dari awal mula sampai pada kemunculan tentara Mongol yang menjadi babak terakhir dari kerajaan Abbasiyah. Sampai pada hal yang bersifat peradaban yang telah diliharkan oleh agama Islam semisal penerapan Fiqh pada kehidupan nyata dan lain-lain.

Tentu karakter Oxford dalam judul buku tersebut menjadi pewarna dalam buku ini. Pelbagai gambaran visual tentang sisa peradaban Islam barangkali dimunculkan untuk menambah ilustrasi yang bisa dilihat para pembaca.

Hal ini setidaknya berhasil dilakukan Oxford. Barangkali testimonial yang ada dibeberapa situs terpercaya semisal Goodread atau dari situs-situs yang mempunyai domain resmi sebuah institusi pasti membahas kekhasan tersebut.

Buku ini, The Oxford History of Islam, terdiri dari 15 bagian dengan penulis yang berbeda. Para penulis adalah mereka yang disebut John Esposito, ia sekaligus editor buku ini, dalam pengantarnya sebagai kolega. Continue reading Review The Oxford History of Islam: John Esposito

Andrejuk Dan Imigran Turki Di Jerman

Tulisan ini ialah sebuah critical review dari salah satu tulisan // Jurnal yang membahas tentang isu kewarganegaraan imigran Turki di Jerman. Adalah Katarzyna Andrejuk seorang penulis, sekaligus seorang ilmuwan, berkebangsaan Polandia yang banyak menulis tentang Imigrasi, multikultularisme dan tentang Eropa.

Termasuk salah satunya adalah jurnal yang berjudul “Muslim Immigration and Its Influence on The Redefinition of Nationhood in Germany” yang dikeluarkan pada laman Studia UBB Sociologia LVIII, 1, 2013, pp. 39-54. Sebagaimana diutarakan diatas, jurnal ini membahas isu yang berkaitan dengan adanya problema imigrasi yang terjadi dibelahan bumi Eropa, dalam kasus ini fokus yang ditujukan penulis adalah Negara Jerman dengan beberapa permasalahan yang dihadapi terkait imigrasi.

Secara garis besar jurnal ini banyak menjelaskan tentang bagaimana sebuah Negara mengalami suatu pendefinisian ulang mengenai status kewarganegaraannya. Jerman, sebagai salah satu contoh, telah memiliki peraturan khusus untuk hal tersebut namun seiring dengan waktu maka hal itupun mengalami sebuah pendefinisian ulang atau redefinisi.

Klaim dari penulis dalam jurnal ini terletak pada bagaimana nantinya proses imigrasi yang berkala ini akan berpengaruh pada kebijakan pemerintahan meskipun ia telah memiliki peraturan khusus yang telah lama diciptakan.

Dengan menggunakan pendekatan sosiologis, artinya menggunakan pendekatan teori-teori sosiologi, penulis berusaha menerangkan hal ihwal mengenai proses imigrasi orang-orang Turki antara tahun 1960 – 1970, yang dimana pada rentang waktu tersebut berimbas pula pada roda pemerintahan sekarang.

Fokus permasalahan penulis adalah bagaimana keadaan para imigran Turki bisa diterima, atau sukses, menjadi sebagai kewarganegaraan Jerman dan apakah hal tersebut berdampak pula pada perekenomian para imigran Turki?

Adapun kesimpulan yang ditemukan oleh peneliti didapatkan setelah melalui berbagai penjelasan-penjelasan terkait hal yang berhubungan dengan permasalahan yang dipertanyakan.

Dalam jurnal tersebut penulis awalnya menyinggung dan membahas tentang kewarganegaraan dilihat dari bingkai sosiologi setelahnya penulis membahas mengenai sejarah awal mula orang-orang muslim di Jerman lalu menganalisis bagaimana orang muslim bisa bersaing // berperan dalam dunia pasar atau lowongan kerja sebelum akhirnya penulis mulai masuk pada pembahasan yang substansial yakni dampak dari para imigran terhadap hokum dan perubahan status kewarganegaraan di Jerman.

KATARZYNA ANDREJUK, DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI

Ada beberapa periode yang selalu menghantui dunia keilmuan, umumnya, atau filsafat, khususnya. Dikatakan sebagai hantu oleh karena periode tersebut selalu dibahas mengenai permasalahannya lalu dicari bagaimana solusi untuk mengganti hal tersebut. Sebut saja periode tersebut dengan tradisionalisme, modernisme dan postmodernisme.

Ketiga periode itu dibarengi dengan suatu gerak melingkar dari beberapa kritikan tajam terhadap hal-hal yang diyakininya bersifat mendasar. Sebut saja ketika para filsuf modernisme mencoba untuk mengurai permasalahan-permasalahan pelik dari periode tradisionalisme dan begitu pula sebaliknya ketika para filsuf postmodernisme mencoba untuk meredefinisi berbagai hal mengenai klaim yang diberi cap modernisme.

Diantara permasalahan peralihan periode tersebut maka sesungguhnya dinamika perubahan tengah berlangsung didalam kehidupan manusia. Karena mereka itu, para filsuf atau Ilmuwan, tidaklah berbicara atas sekehendak mereka akan tetapi dengan memaparkan beberapa bukti // permasalahan atau temuan yang bisa dijadikan sebuah sandaran. Inilah pendapat pribadi saya seketika membaca jurnal yang ditulis Katarzyna Andrejuk tentang imigrasi orang-orang muslim dan dampaknya terhadap kebijakan kebangsaan di Negara Jerman.

Dalam jurnal ini penulis tidak hanya ingin menguraikan beberapa permasalahan melainkan ia ingin juga mengajukan solusi. Ini barangkali menggambarkan dengan tak gamang bahwa ketika dekonstruksi diutarakan maka rekonstruki diajukan. Pertanyaannya sekarang lalu apa yang bisa dijadikan bukti untuk pendapat ini?

Pertama, penulis dalam jurnal ini, khususnya pada pembahasan “Citizenship and participation: overview of sociological approaches” menjelaskan tentang oposisi biner yang ada di Negara Jerman. Sebagaimana dijelaskan bahwa identitas kewarganegaraan di Jerman bisa dijelaskan dengan dua hal. Pertama ia menyangkut tentang pandangan etnis tradisional bahwa kewarganegaraan di Jerman tentu dibatasi oleh batas-batas politik tertentu seperti orang asli Jerman, bahasa atau darah.

Lalu yang kedua, dan tentu berbeda dari yang pertama, adalah apa yang dikenal juga dengan postnational community // membership yaitu suatu bentukan komunitas yang dibuat khusus untuk para imigran Turki yang ada di Jerman. 1

Sebuah keniscayaan oposisi biner adalah adanya suatu doktrin mendasar tentang hal yang baik dan buruk, tinggi dan rendah, bagus dan jelek, pintar dan bodoh dan lain-lain. Hal ini berimbas pula pada wacana-wacana imigrasi di Jerman, khususnya ketika penulis membahas tentang adanya klaim bahwa orang-orang asli Jerman lebih baik daripada orang imgiran muslim atau bahkan disinggung pula bahwa para imigran are less educated. 2

Hal ini mungkin didasarkan pada ihwal sejarah para imigran Turki yang pada waktu awal kedatangannya ke Jerman hanya menjadi perkerja tamu atau gestarbeiter. Lebih lanjut pada jurnal ini dibahas pula tentang keadaan para imigran yang senantiasa mendapat suatu kedudukan rendah dibanding tuan rumah oleh karena para imigran tidak dengan fasih, atau tidak fasih sama sekali, untuk belajar bahasa Jerman.

Permasalahan-permasalahan yang menyangkut tentang perbedaan kedudukan kedua posisi yang berbeda tersebut ternyata menjadi perhatian pemerintah, yang mana mereka mempunyai keinginan untuk mengintegrasikan para imigran.

Belum lagi terdapat satu masalah yang penting, yang mungkin tak bisa dikesampingkan, menyangkut keadaan para imigran yang berasal dari Asia. Hal tersebut mengemuka setelah para imigran dari Rusia datang dan menetarp di Jerman. Kedudukan mereka yang sama seperti para imigran tapi mempunyai sedikit hubungan dengan Jerman dipandang berbeda dengan para imigran yang telah lama hadir di Jerman.

Dengan demikian maka adanya perhatian dari pemerintah, khususnya oleh Partai Sosial Demokrat dan Partai Hijau, pada akhirnya bisa membuat para imigran bernafas lega. Segera setelah melalui beberapa perenungan dan pertimbangan maka sedikit demi sedikit hegemoni Jus Sanguinis bisa diruntuhkan dengan Jus Suis pada tahun 2010.

Adanya hukum baru tersebut setidaknya bermanfaat bagi para imigran meski hanya anak-anak yang telah berumur 8 tahun, dari ke dua atau ketiga generasi para imigran, yang bisa mendapatkan kedudukan tersebut. Itupun mereka harus memilih antara Negara Jerman, bersamaan dengan syarat menaati semua hukum-hukum demokrasinya, dengan memilih Negara dimana ia berasal.

Syarat lain yang tak boleh dipinggirkan adalah ketika kebijakan tersebut direvisi pada tahun 2007, yang mana para imigran tersebut harus juga mempunyai pengetahuan berbahasa Jerman.

Dalam jurnal ini dibahas juga tentang keadaan para imigran setelah ditetapkannya peraturan tersebut. Ada berbagai kemajuan yang dialami para imigran, khususnya para imigran dari Turki, dalam berbagai hal misalnya dalam pendapatan lapangan perkerjaan yang meningkat sampai pada peran penting para imigran yang berpartisipasi dalam dunia politik Jerman.

Hal diatas menunjukan bahwa dengan adanya system integrasi politik terkait kewarganegaraan di Jerman bisa berjalan secara berkelindan, saling melengkapi dan saling memenuhi.

Akan tetapi hal yang selalu muncul dalam setiap kebijakan ialah suatu perlawanan atau pertentangan. Ini bisa disandarkan pada orang-orang yang masih menganggap orang timur, khususnya orang Islam, sebagai “the other” atau liyan. Mereka masih saja berpendapat bahwa kedudukan pribumilah yang masih tinggi dan para imigran rendah.

KESIMPULAN

Jurnal ini adalah sebuah upaya penulis untuk membahas dan menguraikan permasalahan pelik dan berkala yang menyangkut imigrasi berserta dampaknya terhadap hukum kewarganegaraan di Jerman.

Penulis jurnal ini meyakini bahwa hukum apapun itu, bila menyangkut kemaslahan manusia, bisa berubah karena tergantung pada perubahan demografis didalam masyarakat . Dari yang bersifat tradisional menuju pada sifat yang lebih modern dan dinamis.

Mendekonstruksi hegemoni yang telah mapan dengan berbagai pertimbangan dan menawarkan suatu rekonstruksi, melalui pembahasan akademis, penulis jurnal setidaknya telah berhasil memberikan satu wacana baru bagi dunia pendidikan, pada khususnya, dan para imigran, pada umumnya.

Referensi:

  1. STUDIA UBB SOCIOLOGIA, LVIII, 1, 2013, pp. 42
  2. STUDIA UBB SOCIOLOGIA, LVIII, 1, 2013, pp. 43

Pilihan Ideologis Thymos dan Ketakutan Rakyat

Sebagian dari anda mungkin sudah menentukan pilihan untuk calon dan wakil presiden mana yang akan dipilih pada tanggal 9 Juli nanti. Namun ada juga dari sebagian kita yang masih belum, atau mungkin tidak akan pernah memilih, dan menentukan calon tersebut.

Yang belum ini terkadang akan berubah sikap manakala mereka mendapatkan suara kampanye dari pihak yang terkait, baik itu serangan fajar, isu hitam dan bahkan kampanye terlarang. Lebih buruknya lagi bila sikap mereka akan tetap seperti mulanya, acuh terhadap dinamika politik di Indonesia, yaitu menerima apapun kampanye yang didapat tanpa memilih capres dan cawapres.

Itu merupakan hal yang tidak penting. Sekarang yang jadi pertanyaannya adalah bagaimanakah anda menentukan sikap anda, sebagai seorang rakyat, dalam hal menentukan pemilihan pemimpin tersebut? Apakah anda benar-benar menggunakan akal merdeka dalam penentuan itu atau apakah anda termasuk kepada kategori pemilih yang mengekor pada seorang yang anda sukai?

Pertanyaan-pertanyaan diatas dirasa sangat penting karena hal tersebut menyangkut sebuah filosofi dasar bagaimana seharusnya seorang manusia bisa menggunakan akal logisnya dari bayangan-bayangan semu yang membuat kita terhalang dari perbagai pertanyaan yang seharusnya terlontar.

Alih-alih sudah mendapatkan pilihan terbaik untuk capres dan cawapres nanti, namun tanpa disadari pilihannya tersebut hanya berdasarkan kepada pengelakan cara berpikir sendiri dan penerimaan dengan pasrah karena mengikuti seseorang yang kita kagumi. Bukankah kita dilahirkan untuk bertanya dan memilah terlebih dahulu sebelum menentukan sikap bung?

Bahkan yang paling mengerikan dari yang paling mengerikan adalah kita telah menjadi seseorang yang mati, karena pilihan ideologis kita telah teraniaya oleh pilihan semu alias nonreal alias hanya citraan semata, yang mana hal tersebut akan melahirkan kembali pilihan ideologis diatas realitas yang hiper tersebut.

Pilihan Ideologis: Ketika Kita Terlena dan Kapan Seharusnya Kita Bertanya

Apa sebenarnya pilihan ideologis itu dan apa hubungannya dengan pesta demokrasi nanti? Pertanyaan pertama begitu menggoda selanjutnya kita pecahkan pertanyaan ini dengan jawaban yang seirama.

Pilihan ideologis adalah sikap menghormati seseorang terhadap dunia sekitarnya. Motiasi sosial, lingkungan dan cara mereka melihat dunia secara umum menjadi hal yang mutlak dari sikap yang akan dilahirkannya kelak.

Dalam hal pemilihan capres dan cawapres ini, yang menjadi media besar untuk ideologis tersebut adalah kehadiran partai. Karena kelak partai itulah yang akan bersaing, secara politik, dengan partai lain yang boleh dikatakan berbeda pandangan, ideologi, satu sama lain.

Sudah menjadi hal yang mutlak bahwa orang partai haruslah berada pada apa yang mereka yakini searah dan satu reksa untuk kedepannya. Mereka yang telah menjadi bagian pemenang dari kubu yang berseteru tidak akan pernah mungkin mengatakan sesuatu yang jelek meskipun media bertanya tentang suatu yang valid. Hal itu didasarkan pada cita-cita ideologis partai yang sudah tertanam dalam dilubuk hati dan kepentingan mereka.

Kembali kepada pilihan ideologis. Selanjutnya adakah orang-orang tertentu diluar partai yang mengklaim dirinya terkesan pada salah satu capres, sedangkan pada ranah kebenarannya mereka hanya memilih karena berdasarkan pada pilihan ideologisnya tertentu?

Jelas sekali jawabannya adalah ada! mana mungkin tidak dan tidak mungkin tidak. Dalam dunia politik, apalagi ketika sudah berada pada wilayah kenegaraan, hal yang ideologis bukan hanya sebatas cita-cita partai saja, melainkan terdapat pula, didalamnya, keinginan merubah sesuatu yang dinamakan, meminjam istilah Francis Fukuyama, thymos.

Thymos adalah istilah manis yang terdengar elegan tapi mempunyai aura gelap ketika masuk pada ranah substansi yang sebenarnya. Khususnya ketika kita memahami thymos sebagai sebuah hasrat dari beberapa kelompok yang berbeda seakan bertarung untuk menguasai negara.

Bersambung..

Konspirasi Perang Suriah Dikartun Simpson

Kalian mungkin sudah mengenal betul dengan kartun simpson. Yah kartun ini sudah malang melintang didunia perfilman internasional sejak 1987. Isi dan tayangan yang menarik serta penuh dengan intrik membuat film simpson terbilang film kartun terpopuler yang pernah dikeluarkan oleh sutradara Amerika. 1

Namun apa jadinya kalau kartun simpson ini dikaitkan dengan konspirasi-konspirasi di dunia nyata? Hal ini menjadi sebuah pertanyaan karena kartun ini kerap kali menjadi pembahasan bilamana sesuatu yang cenderung aneh terjadi disuatu wilayah yang mungkin telah dikehendaki.

Konspirasi Kartun Simpson

Seperti contoh ketika terdapat teori konspirasi yang mengatakan bahwa kejadian bom yang menimpa gedung pentagon, Amerika Serikat, telah diramalkan oleh the simpson yang dipublikasikan pada tahun 1997. 2 Contoh lain menimpa salah satu televisi swasta di Turki yang menayangkan episode the simpson yang dinilai menampilkan ejekan terhadap Tuhan. 3

Travel to USA

Dan kasus terakhir yang sedang menjadi trending topik diseluruh dunia adalah dengan ditemukannya episode the simpson yang menampilkan perang yang saat ini sedang terjadi di Suriah. Berita ini mencuat pertama kali dan dipublikasikan kepada masyarakat oleh media Mesir.

Konsipirasi Perang Suriah Dikartun Simpson

Koq bisa ada konspirasi perang suriah dikartun simpson? Dengan melihat pada kasus-kasus sebelumnya apakah benar memang selalu ada keterhubungan antara kartun simpson dengan kejadian-kejadian hebat yang akan terjadi pada masa depan yang terbingkai big bos?

Bagi sebagian orang mungkin hal ini nampak konyol dan hanya sebuah kepayahan dalam berpikir sahaja. Karena teori konspirasi cenderung tidak konsisten, ia bisa terhubung pada hal yang satu dan lainnya dengan menggunakan kacamata kuda, eh salah kacamata apapun.

Namun jangan lupa bahwa bagi sebahagian orang tindakan yang diutarakan mereka tersebut, yang melihat konyol teori konspirasi, adalah sebuah keberpihakan mereka pada ranah big bos, artinya mereka adalah boneka-boneka yang tidak bertindak seperti robot namun bergerak secara sistem yang masuk tanpa disadari sendiri oleh mereka.

Kita kembali kepada konspirasi perang suriah dikartun simpson.

Media mesir, Al-tahrir Tv, adalah media yang pertama kali mempublikasikan, yang disebut mereka, bukti-bukti adanya konspirasi yang dilakukan oleh negara barat, mungkin cenderung pada USA, terkait perang suriah. Bukti-bukti adanya konspirasi tersebut mengarah pada episode the simpson yang pernah ditayangkan pada awal tahun 2001.

Lihat Video dibawah ini:

Pada thumbnail video tersebut terdapat satu mobil dan beberapa tentara yang sedang menatap pesawat tempur yang tengah menjatuhkan bom. Dan kalau kita sadari dengan teliti, maka kita akan menemukan sesuatu yang aneh pada gambar/bendera yang ada dimobil tersebut.

Keanehan yang nampak pada bendera tersebut memang perlu dipertanyakan. Seperti pula ketika Raniya Badawy, penyiar Al-Tahrir, mengatakan bahwa:

the cartoon soldiers drawn in 2001 were pictured near a vehicle decorated with a version of the Syrian flag that opposition protesters and rebels only started waving in 2011. 4 - Terjemahan: Gambar kartun tentara yang berdekatan dengan mobil yang menampilkan bendera oposisi dibuat pada tahun 2001, sedangkan pihak oposisi memulai peperangan pada tahun 2011 di Suriah -  (Bad translated)

Sontak hal ini membuat masyarakat terkejut dan serasa meyakini bahwa memang betul telah terjadi satu konpsirasi perang Suriah dikartun simpson karena kebanyakan dari mereka meyakini bahwa tidak ada bendera semacam ini pada waktu itu. 5

Menimang Konspirasi Perang Suriah Dikartun Simpson

Adalah Robert Mickey, Jurnalis untuk New York Time, yang pertama kali menulis sebuah tulisan untuk menimang konspirasi perang suriah dikartun simpson. Khususnya untuk menulis sebuah tulisan balik untuk media Mesir itu.

Ia, pada video simspon tersebut, memang setuju dengan Badawy yang mempunyai pendapat bahwa pihak oposisi tidak menciptakan bendera tersebut. Namun Mickey menambahkan bahwa bendera tersebut adalah pengadopsian bendera yang pernah menjadi bendera Suriah sebelum kudeta militer tahun 1963. 6

Ia juga mengatakan bahwa kemungkinan animator dari episode simpson ini lebih menitikberatkan pada negara Irak sahaja, tidak pada Perang Suriah. Mickey pun mengutip sebuah lirik lagu yang menjadi latar pada video simpson tersebut:

There’s trouble in a far-off nation. Time to get in love formation. Your love’s more deadly than Saddam. That’s why I gotta drop da bomb!

Sedikit Kesimpulan

Pada akhirnya yang akan tersisa dari adanya pemberitaan ini adalah sebuah oposisi biner. Artinya selalu terdapat dua kubu yang berbeda, dimana kubu tersebut dipisah jarakan dengan jurang tajam, dan mungkin takan pernah akur. Yang satu akan mencari hubungan-hubungan berserta fakta untuk menguatkan argumennya, dan yang satunya juga melakukan hal yang sama.

Apalagi dunia barat dan timur memang dari dulu sudah dicaplok dalam bingkai yang akan selalu bertentangan. Hal ini menambahkan paranoid kita terhadap satu sama lain, namun tidak mengesampingkan bahwa kemungkinan yang terjadi itu adalah benar adanya.

Oleh karena itulah maka konspirasi perang suriah dikartun simpson tersebut akan selalu menjadi pertarungan dua kubu yang berbeda. Dan dengan melihat yang berlawanan tersebut agak jauh dari kata penyelarasan pandangan, rasanya bagi kita cukuplah untuk mengetahui, atau bahkan meneliti lebih jauh tentang hal ini.

Semoga sahaja kebenaran akan cepat terungkap, dan sungguh kebenaran itu hanyalah milik Allah Maha Mulia.

Referensi:

  1. http://id.wikipedia.org/wiki/The_Simpsons
  2. http://splitsider.com/2010/11/the-simpsons-predicted-911-according-to-a-very-legit-conspiracy-theory/
  3. http://www.hasmi.org/serial-kartun-the-simpsons-ejek-tuhan-tv-swasta-turki-di-denda-rp-284-juta/
  4. http://english.alarabiya.net/en/media/2014/05/08/Egypt-TV-channel-claims-The-Simpsons-predicted-Syrian-crisis.html
  5. ibid
  6. http://thelede.blogs.nytimes.com/2014/05/06/egyptian-tv-cites-simpsons-episode-as-proof-arab-spring-was-foreign-plot/

Gencatan Senjata Jabhat Al-Nusra dan ISIS

Konflik yang terjadi di Suriah, yang sekarang telah memasuki tahun ketiga, tidak hanya terjadi secara horizontal semata, melainkan konflik sengitpun terjadi secara vertikal. Artinya selain konflik antara pihak oposisi dan tentara rezim diktator disatu sisi, disisi lain seperti yang banyak  dimuat dibeberapa media, konflik juga terjadi pada internal kedua belah pihak yang berseteru.

Syahdan, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa perang di Suriah, pada saat ini, sudah seperti perang yang dimana perang tersebut bisa diandaikan seperti sebuah magnet, ia berhasil menarik pihak lain yang mempunyai tali perjuangan serupa untuk ikut bergabung didalam perjuangannya. Continue reading Gencatan Senjata Jabhat Al-Nusra dan ISIS