Puisi dan Politik, Interpretasi dan Kematian Sang Pengarang

[ZakiiAydia] – Pada masa-masa kampanye yang dilakukan sebelum pemilu legislatif kemarin, publik Indonesia dihebohkan dengan beredarnya puisi-puisi Fadli Zon yang dianggap satire. Tidak salah bila publik atau teman-teman media menganggapnya seperti itu karena kehadiran puisi yang banyak beredar dari broadcast tersebut muncul bersamaan dengan isu politik yang terjadi antara partai yang diusung oleh Fadli Zon dan salah satu partai lainnya.

Puisi-puisi yang berjudulkan Sajak Seekor Ikan, Air Mata Buaya, Ikan Merah Kerempeng dan sandiwara bisa kita temukan dengan mudah dibeberapa situs media online bahkan pada postingan blogger Indonesia yang mengungkapkan interpretasinya.

Hal diatas tersebut setidaknya memberikan beberapa keuntungan kepada kita, dimana seorang Fadli Zon telah memikat pandangan beberapa masyarakat atas dunia politik di Indonesia yang demokratis itu.

Media, khususnya televisi, bak mendapatkan buruan besar untuk menaikan rating acaranya. Dimulailah proses konfirmasi dan konfrontasi yang ditanyangkan oleh salah satu channel TV di Indonesia dalam ajang sebuah diskusi antara pihak yang, diinterpretasikan media dan sebahagian publik, dari Fadli Zon dan pihak yang dikaitkan.

Puisi dan Politik: Interpretasi dan Kematian Sang Pengarang

Setidaknya terdapat dua opini utama yang bisa dijadikan kesimpulan, meski tak utuh, terkait polemik atau fenomena ini. Dan perlu diingat bahwa kesimpulan ini saling berkelindan.

Mereka yang pertama berpendapat bahwa puisi yang dibuat Fadli Zon tersebut benar-benar puisi yang memuat pesan politik. Sedangkan pendapat yang kedua adalah pendapat yang selalu diungkapkan oleh Fadli Zon sendiri bahwa puisi tersebut hanya puisi saja.

Bila dilihat dan dibaca dengan bingkai tak biasa setidaknya kita bisa melihat bahwa pada pendapat pertama nampak jelas bahwa interpretasi menjadi kunci utama bila puisi telah hadir pada pembaca. Interpretasi itu bebas dibaca dan diungkapkan oleh siapa saja yang melihat dan membaca puisi.

Artinya pembaca mempunyai otoritas penuh, tidak terkait dengan keberadaan penguasa yang menciptakan teks, terhadap puisi yang dibaca dan dikajinya. Namun perlu diingat bahwa dengan kuasa penuh tersebut, kematian sang pengarang, tentu interpretasi yang diajukanpun harus masih sesuai dengan koridor dunia kesusastraan.

Seperti misal: interpretasi saya terhadap puisi Fadli Zon ini jelas adalah pesan untuk lawan politiknya. Karena dengan melihat latar belakang beliau sekarang yang menjadi petinggi salah satu partai di Indonesia dan kehidupan pendidikan beliau yang tidak jauh dari kehidupan kesusastraan, rasanya tidaklah berlebihan bahwa puisi-puisi yang ditulis Fadli Zon adalah apa yang ia reksa dan rasa.

Sedangkan pada tingkatan kesimpulan tak utuh yang kedua diatas maka bisa dikatakan bahwasanya interpretasi, selain bisa membuat pembaca bebas berpendapat, ia juga bisa menjadi salah satu kekuatan untuk dijadikan eufemisme, dengan kata lain interpretasi itu bisa dijadikan alasan untuk melanggengkan tujuan yang dituju tergantung dari apa yang ingin dicapai pengarang/penulis.

Kita tidak bisa memaksa seorang pengarang untuk mempunyai pendapat yang sama terkait interpretasi meskipun hal itu terkait dengan apa yang direksa dan dicipta. Kita tidak bisa membuat Kahlil Gibran menyetujui bila karya-karyanya beliau itu memuat pesan perang dunia. Bukan begitu?

Yah, interpretasi dan kematian sang pengarang itu memang berkelindan.

Puisi dan Politik

Terlepas dari apa yang ditulis diatas setidaknya pemberitaan tentang puisi Fadli Zon telah berhasil merebut sebahagian perhatian masyarakat untuk melihat dunia politik yang ada di Indonesia dengan bingkai yang merakyat.

Dan sudah merupakan hal yang lumrah apabila puisi dan politik itu seharusnya bisa bersanding elok bak uang koin yang RP 1000 rupiah itu. Kita tidak bisa lupa dengan pemikiran Vladimir Lenin dalam salah satu tulisannya yang berjudul Party Organization & Party Literature 1 yang mengatakan bahwa dunia kesusastraan seharusnya bisa dituangkan pada gerak perjuangan.

Bahkan di Indonesia juga ada seorang tokoh kontroversial yang pernah mengajak kita untuk mengibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran di bidang sastra dan seni revolusioner 2 yaitu D.N Aidit.

Kehadiran puisi Fadli Zon menjadi monumental karena fenomena ini adalah polemik kesusastraan yang segar yang bisa diinterpretasikan langsung hubungannya dengan dunia politik. Bukan hanya itu, peran dan karakter Fadli Zon sendiri sebagai politisi menegaskan bahwasanya kehadiran puisi itu meramaikan dunia kesusastraan sekarang, khususnya ditahun 2014, secara horizontal – tidak hanya secara vertikal.

Ditambah lagi ketika pemberitaan media menayangkan bahwa terdapat puisi balasan yang ditulis oleh-oleh salah satu anggota partai yang berseteru – interpretasi based on. Hal itu menegaskan pula bahwa, dalam dunia puisi dan politik, terdapat hubungan dialektika yang patut kita hidupkan untuk kedepannya.

Muhammad Zaki Al-Aziz.

Referensi:

  1. http://zakiiaydia.com/sastra/sastra-menurut-lenin
  2. https://www.marxists.org/indonesia/indones/1964-AiditSastra.htm

Para Sahabat Nabi Dimata Ali Bin Abi Thalib

zakii-aydia---sastra

“Saya sudah lihat sendiri akan semua Sahabat Rasulullah SAW. Tidak ada seorang jua dari kamu yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari bergelimang pasir dan debu (dimedan perang), sedang di malam hari banyak berdiri, ruku’ dan sujud (menyembah Allah), silih berganti, tampat kegesitan didahi dan wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak diatas bara bila mereka ingat akan hari pembalasan (akhirat), diantara kedua mata mereka tampak bekas sujud mereka yang lama, bila mereka ingat akan Allah berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong sebagai condongnya pohon dihembus angin lembut karena takut akan siksa Allah, serta mengharapkan pahala atau ganjaran dari Allah”. Continue reading Para Sahabat Nabi Dimata Ali Bin Abi Thalib

Download Ebook Comparative Literature – Susan Bassnett

Comparative literature studies bring you to understand the literature not only in one side. Comparative prefer to use some theory to make a good analysis. So it’s just like cultural studies. Even some scholar said that the comparative literature could be the reason of cultural studies field. I will not talk about that studies in this post but i just want to share one eBook that can become your useful reference for your paper or else.

This eBook, that’s titled A Critical Introduction of Comparative Literature, was written by Susan Bassnett, she’s scholar of literature, especially on field of comparative literature.

This major new introduction to comparative literature is for the students coming to the subject for the first time. Through an examination of a series of case studies and new theoretical developments, Bassnett reviews the current state of comparative literature world-wide in the 1990s. In the past twenty years of a range of new developments in critical theory have changed patterns of reading and approaches to literature: gender-based criticism, reception studies, the growth of translation studies, deconstruction and orientalism all have had a profound impact on work in comparative literature.

Bassnett asks questions not only about the current state of comparative literature as a discipline, but also about its future. Since its beginnings in the nineteenth century, comparative literature has been closely associated with the emergence of national cultures, and its present expansion in many parts of the world indicates that this process is again underway, after a period of narrowly Eurocentric research in the field.

The link download is below 🙂

*Note: Feel free to write comment if the link download is not sent or broken.

[freebiesub download=”http://adf.ly/XEh53″]

Refleksi: Yang Sempat Tertinggal Waktu

Berkaca pada waktu yang dirindu

Membuat kita seolah syahdu

Menyadari betapa kita melewati semua kisah dengan cepat

Berakhir dipelabuhan rasa yang membuncah

*

Yang sempat tertinggal waktu

Memang tak bisa diraih kembali

Namun tak menyurutkan kita

Untuk membuat kisah serupa diesok hari

**

Karena

Kenyataannya, yang tertinggal itu

Bukanlah sesuatu yang hampa

Melainkan ia penuh arti Continue reading Refleksi: Yang Sempat Tertinggal Waktu

Umar bin Khattab & Sastra Kepahlawanan

zakii-aydia---sastra

Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.- Umar bin Khattab, dalam Anis Mata- 1

Ketahuilah bahwa kutipan diatas lahir bukan dari seorang sastrawan besar semisal Shakespeare, Homer, Hemmingway, Khairil Anwar atau bahkan Pram. Melainkan kutipan tersebut berasal dari salah seorang pembesar agama Islam, yakni Umar bin Khatab, – Salam dan doa kupanjatkan untuknya -.

Meskipun ia banyak dikenal sebagai seorang pejuang perang yang pemberani dan tangguh dalam menghadapi musuh namun dibalik keberaniannya itu ia adalah seorang yang menyukai hal ihwal syair khususnya dan sastra pada umumnya.

Ketertarikan Umar bin Khatab pada dunia sastra bukannya tanpa alasan namun memang pada saat itu beliau hidup di wilayah yang mana, pada waktu itu, syair-syair dan sastra menjadi sebuah identitas penting pada suku-suku yang ada di negeri jazirah Arab.

Syahdan, sebelum Islam menyebar luas dengan gemilang, negeri Arab pada waktu itu sudah banyak dikenal oleh orang-orang tentang kepiawaiannya dalam hal syair. Oleh karena itu negeri ini bukan saja dikenal sebagai sebuah negeri yang hidup mewangi, artinya Negeri ini dikenal karena mempunyai banyak cerita indah tentang suatu peradaban, akan tetapi Negeri ini juga dikenal karena kecerdikan-kecerdikan mereka dalam hal bersyair.

Dalam tulisan saya yang terdahulu, yakni tentang “Mu’allaqat: Yang Tersisa Pada Sejarah Ada Pada Syair” 2 telah dikemukakan sedikit mengenai gambaran kondisi orang Arab pra Islam yang sangat menyenangi Hal Syair. Dan untuk mengetahui lebih lanjut temtang keadaan tersebut saya sarankan untuk membaca tulisan itu terlebih dahulu.

Karena pada kesempatan ini saya tidak akan menjelaskan dengan panjang lebar mengenai bagaimana kondisi dan peran sastra yang ada di Arab. Disini saya hanya ingin sedikit menjelaskan bagaimana peran dan fungsi sastra dalam dunia masyarakat dilihat dari tema semata.

Sebagaimana telah terucap diatas bahwasanya Umar bin Khatab – Semoga Allah memberi tempat yang indah kepadanya – ketika berkata “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani” pada waktu itu beliau bukannya berkata tanpa alas an. Akan tetapi beliau mewasiatkan sesuatu yang luar biasa kalau kita pandang kalimat tersebut dengan hati yang jeli bersih nan suci.

Pada kesempatan kali ini yang bisa saya sampaikan, sehubungan dengan alasan Umar bin Khatab, ketika mewasiatkan “mengajarkan sastra kepada anak” pada waktu itu adalah apa yang pernah dialami oleh beliau sewaktu sebelum masuk islam dan sesudah masuk Islam.

Umar bin Khattab Sebelum & Setelah Masuk Islam

Seperti banyak diketahui bahwasanya Umar bin Khatab sebelum masuk menjadi seorang muslim ia lebih terkenal sebagai seorang pembangkang ajaran Islam dan Baginda Nabi Muhammad Saw, PBUH. Pada waktu itu beliau terkenal sebagai seorang yang gagah berani dan tak gentar untuk melawan musuh termasuk keberanian niatnya untuk mebunuh Nabi Muhammad SAW sendiri.

Akan tetapi, sebagaimana jalan taqdir yang berbicara, ternyata sejarah berkata lain padanya. Umar bin Khatab ternyata ditaqdirkan untuk menjadi seorang sahabat Baginda Nabi dalam misinya menyebarkan agama Islam kelak.

Berbicara mengenai ketertarikan Umar pada Islam, usut punya usut ternyata salah satu yang membuat Umar bin Khatab tertegun hatinya untuk lebih mendalami isi dan ajaran yang dibawa oleh baginda Nabi adalah ketika beliau mendengarkan beberapa lantunan ayat Al-quran yang dikiranya adalah sebuah syair.

Ketika kita mendapati hal tersebut maka bukanlah hal yang tak mungkin pada waktu itu beliau telah mengenal betul apa makna dan keindahan yang ada pada sebuah Syair atau pada kata-kata yang mempunyai arti dan makna yang bagus.

Kondisi seperti ini jelas tidak akan bisa terlepas dari lingkungan Arab yang, telah dikatakan tadi, sudah dikenal banyak orang dalam hal dunia sastra, khususnya syair. Itulah sebabnya dengan keindahan bahasa dan alunan merdu ayat suci Al-Quran maka seketika itu pula beliau terkejut ketika mendengarkan lantunan ayat tersebut ternyata merdu didengar dan syahdu direnung.

Begitulah kita mendapati bagaimana bila suatu karya sastra menyuguhkan kepada kita sesuatu yang menggugah hati dan mungkin menjadi penawar rindu bagi jiwa yang sepi. Terlebih apabila yang didengarnya itu adalah Al-Quran yang dimana banyak para ilmuwan yang meyakini bahwa bahasa yang ada didalam Al-Quran merupakan bahasa yang menakjubkan.

Banyak karya-karya sastra yang mampu menggugah hati manusia seperti karya-karya sastra bertema cinta, tragedi, dan kepahlawanan. Apa yang diwasiatkan Umar bin Khatab tentu memiliki kriteria tersendiri bila dilihat pada konteks karya sastranya. Oleh karena Umar bin Khatab adalah seorang pahlawan besar yang menyukai syair maka syair-syair yang dianjurkannya pun tak akan pernah terlepas dari syair-syair yang mempunyai pesan untuk menjadi seorang yang pemberani

Sastra & Kepahlawanan

Unsur-unsur sastra bertema kepahlawanan sebelum datangnya Islam menjadi begitu sangat penting bagi beberapa suku-suku yang ada di Arab. Ungkapan berupa syair yang bertemakan[sociallocker id=”4323″]seorang ksatria (Muru’ah), baik itu yang telah tiada atau yang masih hidup, seolah menjadi sebagai suatu welstanschaung dikalangan mereka.

Pada tingkatan seperti ini seorang pemikir besar islam, Ismail Raja Al-Faruqi, mendefinisikan keadaan diatas sebagai poros romantisisme. Dimana pada keadaan seperti itu (romantisisme) kondisi sosial akan membentuk solideritas internal suku.

Hal itu terjadi karena keadaan di Arab pada waktu itu digambarkan dalam sejarah-sejarah sebagai negeri yang penduduk atau suku-sukunya selalu berperang satu sama lain. Dan sudah menjadi ketentuan umum bahwasanya akan menjadi sebuah kehormatan untuk menang melawan suku yang ditantang perang adalah impian dari beberapa suku selain untuk bertahan hidup.

Syair (Puisi) yang pada waktu itu muncul dari hikayat perasaan individual seseorang menjadi sebuah mediasi yang cocok untuk menggambarkan apa yang tengah terjadi di Arab. Selain itu syair-syair juga menjadi sebuah senjata simbolik yang mampu menggugah perasaan seseorang untuk mengangkat senjata dan menjadi pahlawan di medan perang.

Mari kita simak tulisan singkat dari Ismail Faruqi sebagai penopang dari argumen diatas bahwasanya:

“Perang suku merupakan aturan umum, yang mana gencatan senjata dalam perang menyebabkan periode damai yang relative singkat. Syair terus menerus mengobarkan semangat, menyerukan kematian bagi suku sebagai puncak tertinggi prestasi heroik. Ayyam Al-Arab berkembang hampir seperti kultus, dimana para pemujanya adalah orang-orang Arab yang mendengarkan dengan penuh semangaat saat pendeta – dalam kasus ini, narrator- bercerita dalam syair dan prosa yang fasih warisan anekdot tentang pahlawan perang suku demi suku. Kultus ini benar-benar menguasai imajinasi orang-orang yang ikut serta. 3

Yang bisa kita maknai (jadikan hikmah) secara baik dalam keadaan ini adalah bagaimana sebuah syair atau karya sastra mampu membuat sesorang menjadi seseorang yang merasa seakan dirinya terbang dibawa kata yang diucap. Dengan kata lain inilah yang merupakan suatu sihir syair –sebuah karya sastra- yang mempunyai pengaruh sebagai sebuah sumbu bagi calon-calon pahlawan berikutnya.

Hal diatas bisa menjadi sebagai sebuah penegas bahwasanya unsur-unsur kepahlawanan dalam sebuah syair/karya sastra itu sangat penting. Sebagaimana Umar dengan wasiatnya prihal mengajarkan sastra kepada anak-anak, bukan hanya mengisyaratkan bahwa kita harus berperang, membunuh lawan, melainkan sifat dan hakikat sastranya lah yang bisa menggugah rasa dan jiwa seseorang sehingga yang tadinya ia malas melawan kejahatan menjadi seorang pemberani yang tak tertandingi.

Sedikit teranglah sekarang bagaimana wasiat Umar bin Khatab bisa kita dapati setelah tulisan singkat diatas. Mungkin banyak dari kita yang pernah mengidolakan seseorang pahlawan yang biasa kita tonton di televisi dan secara tidak disadari hal-hal itu membuat pertumbuhan psikologis kita sedikit terpengaruhi. Begitulah hal tersebut terjadi apabila kita membaca satu karya sastra.

Maka benarlah bahwasanya sebuah karya sastra yang hebat itu adalah sebuah karya yang bisa menggugah perasaan orang ketika dibacanya dan kita pun mengidolakannya, mungkin.

Kepahlawanan dalam sebuah karya

Kunci utama dari kepahlawanan, sastra kepahlawanan, adalah perlawanan yang dilakukan seseorang disatu tempat dengan perjuangan kerasnya untuk melawan orang-orang yang dianggapnya telah melanggar suatu aturan yang telah diberlakukan.

Adalah sama ketika kita sedang melihat tayangan-tayangan superhero asal Amerika atau Negara manapun yang sedang membasmi kejahatan dan kita terpukau oleh pahlawan pemberani yang tangguh itu.

Bedanya kalau waktu itu media TV dan tekhnologi belum tercipta maka perhatian utama para pengarang adalah dengan menuliskan cerita yang menggugah rasa kepahlawanannya kedalam sebuah mahakarya tulis/syair.

Banyak cerita-cerita kepahlawanan semacam Iliad, Odius, William Wallace, King Arthur, Hercules, Wonder Woman, Si Pitung, Robin Hood, dan Sanaya adalah buah dari bagaimana pengarang ingin menyampaikan sebuah sejarah yang mungkin bisa membuat kita menyadari sesuatu mutiara yang belum tersentuh hati.

Berbagai karakter pahlawan diatas memiliki perbedaan, baik itu secara keadaan sosiokultural (disesuaikan berdasarkan tempat pahlawan itu diceritakan) ataupun apa yang ditunjukan penulis pada karakter pahlawan tersebut. Sesuai dengan apa yang direksa dan lingkungan yang mereksa adalah salah satu syarat bagaimana seorang penulis mengkonstruksi pemahaman dirinya dalam suatu karya sastra.

Perlu diketahui bahwa satu hal yang paling mendasar dari bagaimana proses kepenulisan adalah seorang penulis itu tidaklah mungkin menulis sesuatu yang tak ia ketahui, artinya makna dari ketahui tersebut adalah apa yang ia pikirkan dan rasakan.

Sedangkan dalam pesannya, sebagaimana tersirat dari karakter yang ditampilkan dalam karya-karya tersebut adalah untuk menegakan keadilan dan kebenaran, membela yang benar dan malawan yang salah.

Keadaan sosikultural (Lingkungan) dimana karya tersebut lahir menjadi satu faktor penting pada cerita yang akan ditampilkan oleh seorang penulis kelak. Kadang seorang pahlawan muncul dalam sebuah sastra dalam situasi yang menggambarkan sebuah kerajaan yang penuh dengan korupsi, kesemena-menaan kaum borjuis dan ketidak perdulian mereka terhadap kaum miskin.

Bahkan ada juga tema yang muncul seperti sikap perlawanan negeri yang terjajah terhadap penjajahnya dulu. Sebagaimana Talas dalam essainya yang mengatakan bahwa:

Heroes first appeared in myths of various kinds, and in many cases the course of their life seems to represent daily or seasonal changes; in such cases they either symbolize the sun, or the growth and death of vegetation (Heroes and Heroism in Myth, Legend and Fiction)

Tema kepahlawanan dalam sebuah karya sastra adalah tema klasik yang selalu banyak kita temui hari ini. Dimanapun Negara kita singgah pastilah terdapat sebuah karya sastra –tentang kepahlawanan- yang kita dapat baik itu berupa dongeng, mitos atau legenda.

Menurut Jung –seorang pakar mitos- hal ini terjadi karena:

Heroes are constructions; they are not real. All societies have similar hero stories not because they coincidentally made them up on their own, but because heroes express a deep psychological aspect of human existence. They can be seen as a metaphor for the human search of self-knowledge. In other words, the hero shows us the path to our own consciousness through his actions.

Boleh dikata bahwa disini sastra menjadi sebuah alat perlawanan bagi mereka yang mempunyai kehebatan dalam merangkai kata sehingga semerbak menjadi beribu makna bagi para pembacanya. Sehingga benarlah bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari pedang – dalam konteks perang -.

Seorang penulis sedikit mengubah gambaran perang dari cara mengasah pedang dan memainkannya menjadi sebuah kata yang tajamnya aduhai lebih terasah dari pedang itu sendiri. Buktinya sejarah mengatakan bahwa banyak para sastrawan/seniman yang pernah mendekam dipenjara akibat karya mereka yang dianggap terlalu radikal.

Pun ketika wasiat itu diturunkan beliau kepada rakyat-rakyatnya, termasuk kita sendiri, sebagai umat Islam hal ini menandakan bahwa syair atau sastra itu bukan merupakan suatu yang tidak dibolehkan. Kita tahu bahwa beliau adalah salah satu orang terdekat baginda Rosul, (PUBH) maka dari itu tidaklah mungkin jikalau beliau mewasiatkan sesuatu yang tidak dianjurkan oleh Islam.

[/sociallocker]

Referensi:

  1. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra-
  2. http://skhatzey.blogspot.com/2012/07/muallaqat-yang-tersisa-dari-sejarah-ada.html
  3. Faruqi. Ismail, Atlas Budaya Islam

Mengenal Studi Sastra Bandingan

Mengenal Studi Sastra Bandingan

Apabila dipikir kembali maka ada benarnya juga ketika kita mendapati sebuah karya sastra yang mempunyai kemiripan satu sama lain dengan sastra yang lainnya dilain tempat. Sebagai contoh adalah karya Shakespeare – Romeo & Juliet yang esensi ceritanya mirip dengan cerita layla majnun. Meski tidak semua isi dan cerita itu bisa dibilang sama namun para pembaca pasti menyadari memang terdapat sebuah unsur persamaan diantara kedua karya tersebut.

Secara umum, pandangan tersebut merupakan bagaimana kita melihat apa yang dipikirkan hanya sebatas pada pandangan tematik. Artinya memang benar temanya yaitu sama kasih tak sampai, kasih yang tersimpan karena taqdir tak bertuan. Disini  kita mendapati suatu persamaan diantara kedua karya berbeda negara tersebut tapi kita belum melihat unsur-unsur lain yang mungkin menciptakan karya tersebut.

Unsur-unsur itu bisa dari sejarah, atau bagaimana pengarang melihat keadaan sosialnya, lingkungan, agama atau budaya. Unsur yang tersebutlah yang mungkin pada akhirnya akan membantu kita untuk menemukan sedikit perbedaan dari kedua karya tersebut, yang tentunya berlandaskan pada suatu pencarian yang bersistem, tidak semena-mena asal berbicara.

Kita boleh menamai khalayak tersebut dengan bagaimana peneliti melihat karya sastra diluar tekstualnya, yakni melihat karya tersebut dengan kacamata sosiokulturalnya. Pandangan ini cukup melegakan bagi peneliti disatu sisi dan untuk karya sastra yang diteliti disisi lain. Try to find a reason just by yourself!!

Studi Sastra Bandingan: Melihat Sastra Lebih Luas

Salah satu studi yang mungkin bisa kita pakai dalam menelaah bagaimana persamaan dan perbedaan itu nampak adalah dengan memakai studi sastra bandingan. Sastra bandingan adalah suatu disiplin ilmu yang relatif baru dikancah dunia sastra. Tapi gaungnya sudah terasa dekat ketelinga kaum akademisi. Sekilas, sastra bandingan itu merupakan bagaimana seseorang membandingkan satu karya dengan karya lainnya. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka ada dua aliran berbeda yang mempunyai opini tentang sastra bandingan.

Aliran pertama yaitu Prancis dan aliran kedua adalah yang datang dari Amerika. Sebenarnya perbedaannya hanya terletak pada bagaimana sastra bandingan itu diaplikasikan pada suatu karya.

Contoh kecil dari perbedaan kedua aliran tersebut ada pada bagaimana aliran prancis hanya menganjurkan karya yang sama ketika membandingkannya, cerpen dengan cerpen, novel dengan novel dll. Berbeda dengan Prancis, maka Aliran amerika lebih liberal, lebih maju, dari apa yang didefinisikan dari pemukanya di Prancis. Meskipun begitu masih banyak persamaan dari kedua aliran tersebut.

Untuk definisi dari sastra bandingan kita bisa melihat kepada kamus webster: " the study of the interrelationship of the literatures of two or more national cultures usu. of differing languages and esp. of the influences of one upon the other; sometimes : informal study of literary works in translation  1" Terjemahannya → Studi tentang hubungan timbal balik dari dua atau lebih kebudayaan nasional, biasanya dari perbedaan bahasa dan khususnya pengaruh satu karya terhadap karya yang lain.

Sedangkan Bassnett, dengan fokus yang lebih meniti daripada definisi dari webster, dalam bukunya A Critical Introduction to Comparative Literature mengatakan bahwa sastra bandingan adalah

"The study of text across culture, that is interdisciplinary, and that it is concerned, with patterns communication in literature across both time and space.  2

Baik webster atau Bassnett, mereka menekankan agar karakter sastra yang dibandingkan itu setidaknya harus mempunyai perbedaan bahasa atau budaya dalam ruang dan waktu yang berbeda pula. Hal ini pada akhirnya akan membuat kita lebih luas dalam melihat obyek yang dianalisis.

Sehingga apa yang dikatakan oleh Bassnett diatas itu benar bahwa sastra bandingan adalah suatu studi yang interdisipliner. Melihat sastra tidak hanya terpacu pada teks melainkan bisa meminjam pada teori-teori yang berhubungan, sesuai tujuan dan apa yang akan dianalisis.  Senada dengan hal tersebut bang

Damono berujar (2005:1; 2009:1), bahwa sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak dapat menghasilkan teori sendiri. Boleh dikatakan teori apapun bisa dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan, sesuai dengan objek dan tujuan penelitiannya. Dalam beberapa tulisan, sastra bandingan juga disebut sebagai studi atau kajian. Dalam langkah-langkah yang dilakukannya, metode perbandingan adalah yang utama. 3

Kenapa Harus Dibandingkan?

Pertanyaan diatas mungkin merupakan pertanyaan mendasar apabila kita ingin mengenal lebih dekat dengan sastra bandingan. Lebih mengetahui dengan bertanya sebenarnya apa yang harus dibandingkan? Bagaimana mencari persamaan dan perbedaannya? Dan kalau sudah ketemu, mau dibawa kemana perbedaan dan persamaan tersebut?

Kenapa harus dibandingkan? Jawabannya mungkin ada pada beberapa pandangan. Pandangan pertama datang dari bagaimana sifat folklore berkembang dari satu tempat ke tempat yang lain yang pada akhirnya diduga bermuara pada sebuah karya tulis. Misalnya tema kepahlawanan dalam sebuah karya sastra. Dengan adanya kemiripan tema antara cerita satu tempat dan tempat yang lain maka hal itu sangat menarik perhatian peneliti untuk menganalisisnya.

Tentu, dalam praktiknya peneliti itu harus mengetahui dahulu isi keseluruhan karya yang akan dianalisis. Tanpa mengetahui cerita yang dituliskannya peneliti itu tidak mungkin bisa menerka-nerka persamaan dari kedua karya tersebut, apalagi untuk mencari perbedaannya.

Syahdan, karya sastra itu bisa kita bilang adalah sebuah refleksi perasaan manusia, baik ketika mereka sedih, bahagia, menderita, dan sebagainya. Sastra/seni terlahir sebagai sebuah perantara bagaimana miniatur rasa manusia bisa diterka. Oleh karenanya kita sering mendapati tema-tema cinta, sedih, tragedi, pembunuhan sampai kepahlawanan dalam sastra. Hal itu menandakan bahwa sastra itu bersifat universal. Ia adalah perasaan semua manusia dibumi.

Akan tetapi, seperti yang telah disebut diatas, suatu karya sastra itu bisa dibilang sama karena kita melihatnya hanya pada tataran tekstual, tematiknya saja. Sedangkan unsur lain, unsur-unsur yang bisa mempengaruhi suatu karya sastra dimanapun itu berada belum kita sentuh keberadaannya.

Misal, memang betul ada satu kemiripan cerita antara Oedipus dan Sangkuriang ketika ingin menikahi seorang wanita yang notabennya adalah Ibunya sendiri. Stelah mengetahui hal tersebut apakah lantas kita berhenti pada tataran itu saja? Tidak. Studi komparatif tidak menganjurkan untuk sesederhana itu. Ada baiknya kita mengerti apa yang telah dikatakan seorang akademisi sastra:

Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini, sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol; metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto, yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung;  28 Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.  4

Kisah Oedipus dan Sangkuriang adalah kisah cinta seorang anak pada ibunya sendiri. Bedanya Oedipus memang sempat menjadi seorang suami dari Ibunya sendiri sedangkan Sangkuriang tidak senasib dengan Oedipus. Disinilah letaknya kita harus mengenal faktor budaya, nilai leluhur, atau sejarah mitologi dari kedua sastra tersebut yang berasal dari dua negara yang berbeda.

Dengan meminjam disiplin sejarah maka kita akan mengenal keadaan sosial dari kedua negara tersebut, dengan meminjam disiplin politik maka kita akan mengetahui keadaan rakyat dan pemimpinnya, dan lain hal sebagainya. Sehingga setidaknya kita akan mengetahui bahwa dalam ajaran sunda, seorang anak yang menikah dengan ibu sendiri adalah sebuah kedurhakaan yang tiada tara. Lalu apakah di negeri Oedipus juga mengenal kultur semacam ini? Let’s try just by yourself!

To be continued..

Download Ebook An Introduction to Comparative Literature – Sussan Bassnett dibawah. Masukan email teman untuk mendapatkannya. 🙂

[freebiesub download=”http://adf.ly/XEh53″]

Referensi:

  1. http://www.merriam-webster.com/dictionary/comparative%20literature, diunduh pada tanggal 12/15/2012
  2. Bassnett, Sussan. 1993. Comparative Literature: A Critical Introduction. Cambridge: Blackwell Publisher.
  3. http://www.jendelasastra.com/wawasan/essay/sejarah-perkembangan-dan-fokus-kajian-sastra-bandingan, diunduh 12/15/2012.
  4. Yusuf H, Asep. 2007. Metode Penelitian Sastra, Modul. Unpad: Bandung.