Puisi dan Politik, Interpretasi dan Kematian Sang Pengarang

[ZakiiAydia] – Pada masa-masa kampanye yang dilakukan sebelum pemilu legislatif kemarin, publik Indonesia dihebohkan dengan beredarnya puisi-puisi Fadli Zon yang dianggap satire. Tidak salah bila publik atau teman-teman media menganggapnya seperti itu karena kehadiran puisi yang banyak beredar dari broadcast tersebut muncul bersamaan dengan isu politik yang terjadi antara partai yang diusung oleh Fadli Zon dan salah satu partai lainnya.

Puisi-puisi yang berjudulkan Sajak Seekor Ikan, Air Mata Buaya, Ikan Merah Kerempeng dan sandiwara bisa kita temukan dengan mudah dibeberapa situs media online bahkan pada postingan blogger Indonesia yang mengungkapkan interpretasinya.

Hal diatas tersebut setidaknya memberikan beberapa keuntungan kepada kita, dimana seorang Fadli Zon telah memikat pandangan beberapa masyarakat atas dunia politik di Indonesia yang demokratis itu.

Media, khususnya televisi, bak mendapatkan buruan besar untuk menaikan rating acaranya. Dimulailah proses konfirmasi dan konfrontasi yang ditanyangkan oleh salah satu channel TV di Indonesia dalam ajang sebuah diskusi antara pihak yang, diinterpretasikan media dan sebahagian publik, dari Fadli Zon dan pihak yang dikaitkan.

Puisi dan Politik: Interpretasi dan Kematian Sang Pengarang

Setidaknya terdapat dua opini utama yang bisa dijadikan kesimpulan, meski tak utuh, terkait polemik atau fenomena ini. Dan perlu diingat bahwa kesimpulan ini saling berkelindan.

Mereka yang pertama berpendapat bahwa puisi yang dibuat Fadli Zon tersebut benar-benar puisi yang memuat pesan politik. Sedangkan pendapat yang kedua adalah pendapat yang selalu diungkapkan oleh Fadli Zon sendiri bahwa puisi tersebut hanya puisi saja.

Bila dilihat dan dibaca dengan bingkai tak biasa setidaknya kita bisa melihat bahwa pada pendapat pertama nampak jelas bahwa interpretasi menjadi kunci utama bila puisi telah hadir pada pembaca. Interpretasi itu bebas dibaca dan diungkapkan oleh siapa saja yang melihat dan membaca puisi.

Artinya pembaca mempunyai otoritas penuh, tidak terkait dengan keberadaan penguasa yang menciptakan teks, terhadap puisi yang dibaca dan dikajinya. Namun perlu diingat bahwa dengan kuasa penuh tersebut, kematian sang pengarang, tentu interpretasi yang diajukanpun harus masih sesuai dengan koridor dunia kesusastraan.

Seperti misal: interpretasi saya terhadap puisi Fadli Zon ini jelas adalah pesan untuk lawan politiknya. Karena dengan melihat latar belakang beliau sekarang yang menjadi petinggi salah satu partai di Indonesia dan kehidupan pendidikan beliau yang tidak jauh dari kehidupan kesusastraan, rasanya tidaklah berlebihan bahwa puisi-puisi yang ditulis Fadli Zon adalah apa yang ia reksa dan rasa.

Sedangkan pada tingkatan kesimpulan tak utuh yang kedua diatas maka bisa dikatakan bahwasanya interpretasi, selain bisa membuat pembaca bebas berpendapat, ia juga bisa menjadi salah satu kekuatan untuk dijadikan eufemisme, dengan kata lain interpretasi itu bisa dijadikan alasan untuk melanggengkan tujuan yang dituju tergantung dari apa yang ingin dicapai pengarang/penulis.

Kita tidak bisa memaksa seorang pengarang untuk mempunyai pendapat yang sama terkait interpretasi meskipun hal itu terkait dengan apa yang direksa dan dicipta. Kita tidak bisa membuat Kahlil Gibran menyetujui bila karya-karyanya beliau itu memuat pesan perang dunia. Bukan begitu?

Yah, interpretasi dan kematian sang pengarang itu memang berkelindan.

Puisi dan Politik

Terlepas dari apa yang ditulis diatas setidaknya pemberitaan tentang puisi Fadli Zon telah berhasil merebut sebahagian perhatian masyarakat untuk melihat dunia politik yang ada di Indonesia dengan bingkai yang merakyat.

Dan sudah merupakan hal yang lumrah apabila puisi dan politik itu seharusnya bisa bersanding elok bak uang koin yang RP 1000 rupiah itu. Kita tidak bisa lupa dengan pemikiran Vladimir Lenin dalam salah satu tulisannya yang berjudul Party Organization & Party Literature 1 yang mengatakan bahwa dunia kesusastraan seharusnya bisa dituangkan pada gerak perjuangan.

Bahkan di Indonesia juga ada seorang tokoh kontroversial yang pernah mengajak kita untuk mengibarkan tinggi-tinggi panji pertempuran di bidang sastra dan seni revolusioner 2 yaitu D.N Aidit.

Kehadiran puisi Fadli Zon menjadi monumental karena fenomena ini adalah polemik kesusastraan yang segar yang bisa diinterpretasikan langsung hubungannya dengan dunia politik. Bukan hanya itu, peran dan karakter Fadli Zon sendiri sebagai politisi menegaskan bahwasanya kehadiran puisi itu meramaikan dunia kesusastraan sekarang, khususnya ditahun 2014, secara horizontal – tidak hanya secara vertikal.

Ditambah lagi ketika pemberitaan media menayangkan bahwa terdapat puisi balasan yang ditulis oleh-oleh salah satu anggota partai yang berseteru – interpretasi based on. Hal itu menegaskan pula bahwa, dalam dunia puisi dan politik, terdapat hubungan dialektika yang patut kita hidupkan untuk kedepannya.

Muhammad Zaki Al-Aziz.

Referensi:

  1. http://zakiiaydia.com/sastra/sastra-menurut-lenin
  2. https://www.marxists.org/indonesia/indones/1964-AiditSastra.htm

Refleksi: Yang Sempat Tertinggal Waktu

Berkaca pada waktu yang dirindu

Membuat kita seolah syahdu

Menyadari betapa kita melewati semua kisah dengan cepat

Berakhir dipelabuhan rasa yang membuncah

*

Yang sempat tertinggal waktu

Memang tak bisa diraih kembali

Namun tak menyurutkan kita

Untuk membuat kisah serupa diesok hari

**

Karena

Kenyataannya, yang tertinggal itu

Bukanlah sesuatu yang hampa

Melainkan ia penuh arti Continue reading Refleksi: Yang Sempat Tertinggal Waktu

Rumput dan Dosa

Suatu hari Ishadat bertanya kepada lintang. “Hey Ishadat! Apakah kamu mengetahui perumpamaan rumput yang selalu diam dan dosa yang tak pernah ada?” Ishadat menjawabnya:

Bilau kau tahu dan melihat dengan kejujuran, kau pasti bakal sampai mengerti bahwa rumput tak pernah bergoyang, yang ada hanya angin yang berdendang. Seusai itu ia diam dan tak bergoyang sampai angin menyentuh nya kembali. Mata manusia yang tak sempurna tiada mampu melihat angin yang berdendang itu meski ia bisa merasa tapi. Lalu ia memalingkan hal tersebut pada rumputnya saja.

Begitupun dosa, bila kau memang mau mengertinya, kau akan tahu bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang diinginkan, ia hanyalah serupa perasaan yang kelak pergi bersama dengan waktu dan kau menyadari bahwa semua itu menyisakan penyesalan.

Manusia bisa merasakannya tapi kadang ia menolaknya karena imbalan dari Sang Maha Kuasa mungkin terasa samar dihari yang jauh lebih terasa dari janji yang telah ditetapkan.

Ruh – Ibnu Sina

Ia (Ruh) turun kepadamu (hai tubuh manusia) dari tempat yang tinggi.
(Bagaikan) merpati enggan dan menghindar.
Terselubung terhadap pelupuk setiap pemandang
Padahal ia yang membuka wajah dan tanpa cadar

Ia menangis bila mengingat janji-janji di alamnya yang luhur
Mencucurkan air mata, deras, tiada henti

Ia pun terus berkicau menangisi puing-puing
Yang telah runtuh oleh kisaran angin dari empat penjuru
Itu karena ia terhalangi oleh jeratan yang kuat dan dibendung
Oleh sangkar, sehingga tak lepas ke angkasa luas

Hingga jika telah mendekat jalan menuju asalnya…
Mendekat pula saat ia berpisah ke angkasa yang luas
Lalu berangkat berpisah dengan semua yang ditinggal
Ditinggal remeh bersama tanah…dan tanpa berpamit
Ketika itu, mendadak dibuka tabir, dan terlihatlah. ..
Apa yang tak terjangkau mata (dan) yang (tak) disentuh kantuk
Ia pun berkicau di atas puncak yang amat tinggi
Begitulah ilmu, meninggikan semua yang belum tinggi
(Mungkin ada yang bertanya, apakah ruh gembira dengan kepulangannya? )

Nah, mengapa ia diturunkan dari tempat yang tinggi?
Menuju kedalaman yang sangat rendah dan hina?
Ia diturunkan Tuhan, untuk suatu hikmah
Yang tidak terjangkau oleh cendekia yang sangat bijak!
Tak pelak lagi, turunnya adalah keniscayaan
Agar menjangkau apa yang belum dijangkaunya
Guna meraih semua rahasia, rahasia kedua alam
Sobekan bajunya tak perlu dijahit
Masa menghadang perjalanannya, kendati demikian,
Ia terbenam, tidak serupa ketika terbitnya
Ia seakan kilat, cemerlang di bentengnya yang tinggi
Lalu redup, menghilang bagai tak pernah berkilau…

Ruh – Ibnu Sina

Suatu Perpisahan

Kudaku, lekas aku akan kembali pada peraduan

Entah kapan kita akan berpisah

Tapi itu merupakan keniscayaan

Bahwa aku akan terbang meninggalkanmu

Kudaku, akupun tak tahu bila engkau bertanya

Hendakkah kau kembali bersemayam lagi

Yang aku tahu aku takan pernah kembali

Hanyalah sekali aku berada dibumi tua ini

Tapi aku yakin bahwa saudaraku masih akan berlabuh

Ke dunia ini bersemayam dengan teman-temanmu yang lain

Hanya dialah yang mampu melakukannya

Dia yang pertama kali menghempaskanku padamu

Dialah juga yang merangkul aku kembali

Terpisah denganmu dan dengan waktu-waktu yang lalu

Kudaku, janganlah engkau bersedih, itu takan mengembalikan semuanya

Tidurlah dengan nyenyak ketika para malaikat menjemputku

Semoga semua bekalku menjadi kunci penerang

Menembus nirwana. syurgawi yang didamba.

Kudaku, maafkan aku, tidak meninggalkan hal berharga padamu

Karena yang demikian tak berharga dihadapanya

Kudaku, semoga pada saatnya nanti Perpisahan ini tiada terhambat

Lepaskanlah aku dengan doa mengiringi

Ketika itu mungkin aku melihat kau menutup mata dengan

Muhammad Zaki Al-Aziz – 2011