in Filsafat

Caleg Bukan Caleg: Ada dan Pengada

Menjadi caleg, bagi sebahagian orang, adalah sebuah keinginan besar yang dimana pada saat keinginan tersebut tercapai maka perasaan dari tingkat kenikmatan itu menjadi hingar tiada tara.

Oleh karena itu tidaklah salah bilamana kita mendapati, umumnya setelah pemilihan selesai, bahwa terdapat caleg-caleg yang rela mengeluarkan dana kampanye yang besar untuk diberikan kepada rakyat atau kata kasarnya adalah politik uang. Tujuannya hanya agar kelak ketika pemilihan legislatif dilaksanakan, caleg yang harus dipilih adalah orang yang telah memberikan uang a.k.a sumbangan tersebut.

Hal diatas seakan membenarkan, pandangan wong kecil terhadap pemburu jabatan, bahwa terdapat satu buah hubungan timbal balik bilamana ada seseorang yang hendak ingin menjadi seorang caleg. Hubungan itu bisa berupa sebuah kuasa yang erat dengan jabatan sampai melebar pada kemudahan sang kuasa ketika hendak mencari uang.

Inilah salah satu alasan yang bisa kita nisbatkan kepada sebahagian caleg bukan caleg yang ada di Indonesia, khususnya pada tahun 2014 sekarang. Caleg bukan caleg adalah pengejawantahan akan keberadaan caleg gila atau stres yang banyak diberitakan oleh beberapa media paska pemilihan legislatif.

Pada tahun 2014 ini ada beberapa caleg stres yang berhasil penulis dokumentasikan. Ada baiknya bila saya bagikan didalam tulisan ini:

  1. Caleg bukan caleg menutupi jalan umum yang diklaim kebunnya
  2. Caleg yang mondok di salah satu Pesantren di Jawa Timur
  3. Caleg sakit tapi tak bisa berobat ke rumat sakit
  4. Caleg bukan caleg stres mengelilingi desa
  5. Caleg sakit berobat ke paranormal 1

CALEG BUKAN CALEG: SADAR DAN MENOLAK KESADARAN

Harapan dan dana kampanye yang besar dari seorang caleg tidaklah selamanya berbuah cita rasa yang diimpikan. Hal ini tidak seperti ketika kita membeli makanan enak nan mahal yang langsung bisa kita cicipi cita rasanya, bung. Melainkan hal ini seperti seseorang yang hendak memberikan sebagian uang untuk orang yang memerlukan. Karenanya balasan yang biasa diterimapun tidak dapat diterima secara langsung oleh pemberi.

Ada satu waktu yang harus ditunggu oleh seorang caleg dengan secara sadar. Artinya dirinya harus bisa memahami bahwa kemungkinan besar suara dari rakyat, meski sudah diberikan uang sumbangan, tidak menjadi jaminan mereka memilih dirinya. Pada saat seperti itu seharusnya kesadaran mereka haruslah tetap pada kesadaran awalnya, yaitu siap menerima kekalahan dengan lapang dada.

Sebaliknya bila kenyataan yang didapat seorang caleg tidak sepadan dengan apa yang telah ia keluarkan dan dia tidak bisa menerima hal tersebut dengan cuma-cuma maka ia termasuk seorang caleg bukan caleg yang telah menolak dirinya dalam kesadarannya.

ADA DAN PENGADA PADA CALEG BUKAN CALEG

Caleg yang sadar itu semestinya sudah mengerti semua konsekwensi yang akan dia dapatkan dengan mencalonkan diri menjadi seorang caleg. Khususnya bagi sebahagian caleg yang menaruh sebagian dana kampanye besar untuk mengarapkan sesuatu yang pasti.

Keberadaan kesadaraan inilah yang sejatinya menjadi awal bagi seorang caleg. Ia harus bisa menempatkan dirinya pada posisi ini untuk seterusnya. Titik inilah yang menjadi titik awal dari hal yang akan tercipta sesudah proses lainnya, dialektika.

Keberadaan kesadaran ini nampak serasi dengan istilah “Ada” yang pernah menjadi pembahasan filsuf terkemuka Martin Heidegger. Pertanyaan selanjutnya adalah dimanakah letak “Pengada” yang ada pada caleg bukan caleg?

Seperti yang sudah saya singgung diatas, bahwasanya terdapat hubungan dialektika antara caleg yang sadar diri dengan caleg yang hilang kesadarannya sesaat ketika dirinya menerima kenyataan pahit.

Caleg stres yang tidak kuasa setelah dirinya tidak mendapatkan suara rakyat yang begitu diharapkannya. Iapun lantas menjadi seorang manusia yang terlepas dari kesadaran/Ada/being of nature –nya kepada manusia yang tak sempurna karena kehilangan/menolak kesadarannya. Dan pada saat seperti inilah pengada/being of reasons muncul pada seorang caleg yang stres.

SARAN BAGI CALEG YANG STRES

Saya sendiri mempunyai pendapat bahwa Indonesia sedikit beruntung karena sedikit dari banyaknya caleg yang melakukan politik uang dengan rasa yang tak berkesadaran telah terungkap kedok monyetnya – Ups Salah. Saya tidak bisa membayangkan bilamana caleg tersebut lolos dan duduk menikmati kuasa dan tahtanya.

Syukur-syukur kalau misal Kesadaran/Ada dan kehilangan kesadaran/pengada pada seorang caleg itu telah terputus dengan rasa syukur mereka atas nikmat Allah. Hal ini mungkin akan mengurangi rasa takut saya terhadap caleg yang kehilangan kesadarannya sehingga menjadi manusia yang korup.

Penting untuk diingat bahwa seharusnya keberadaan rumah sakit yang diperuntukan bagi para caleg stres bisa menjadi pelajaran berharga. Hal ini bisa jadi sebuah teguran secara tidak langsung yang bisa diinterpretasikan seperti “Siapkanlah dirimu kalah atau menang”

25 total views, 1 views today

Referensi:

  1. http://www.merdeka.com/politik/ini-kisah-kisah-tragis-caleg-gagal-2014.html

Tinggalkan pesan

Comment