in Kajian Budaya

Buruh dan Kapitalisme: 2 Sayap Tak Terpisahkan

Kejadian yang menimpa puluhan saudara-saudara kita yang diperbudak tuan tanah sendiri setidaknya membuat hati dan mata kita disatu sisi enggan untuk melihat namun disisi lainnya ingin untuk melihat.

Ini bukan zamannya Fir’aun bukan pula zamannya belanda, sekarang ini adalah zamannya beda lagi. Namun dengan perbedaan tersebut ternyata terdapatlah beberapa kecenderungan yang semisal pernah terjadi seperti dahulu kala.

Semisal kompeni yang datang ke negeri bahari, yang katanya, hanya ingin mengabdi tapi kebablasan menjadi pencuri. Pada kasus perbudakan yang terjadi akhir-akhir ini barangkali kita seolah tak mau percaya bahwa hal tersebut, yang kompeni lakukan, tengah terjadi didunia demokrasi.

Bagaimana pencerahan yang mereka tawarkan dengan dalih perkerjaan untuk menjadi insan yang lebih baik ternyata hanya omongan semu yang palsu namun setidaknya memang merdu untuk dituju.

Kekuasaan memang dari dulu berwajah banyak. Tak sahaja memungkinkan bertindak semena-mena. Ia juga mampu menghendaki karena ia mempunyai, meminjam kata Nietzsche, will to power. Buruh dan kapitalisme nampaknya menjadi warna warni dunia dari semenjak dulu.

Bagaimana seorang empunya pabrik tersebut, sebagai pemilik modal, ia mempunyai kapasitas untuk berbuat sekehendaknya. Ia tak memperdulikan kebebasan manusia yang merasa hidupnya terkungkung dalam jerat ancam dan tekanan yang menakutkan.

Adanya aparat keamanan, yang sepertinya, menambah suatu porsi yang jelas bahwa kekuasaan ialah diatas segalanya. Dengan uang, siapapun bisa berbuat apa seingin mereka. Hal ini menandakan adanya suatu kelemahan mendasar namun tak tersentuh oleh sistem. Rule of law harus direfresh kembali agar segar.

Bukan hanya dari segi ekonomi saja para empunya pabrik tersebut salah dan menyalahi. Karena sejatinya setiap orang berkerja menurut kesanggupannya, setiap orang menerima menurut hasil kerjanya. – Marx & Engels –

Dengan porsi yang disamakan dengan cara kerja rodi dari pagi sedari jam 6 pagi sampai jam 8 atau bisa lebih dengan suasana dan keadaan yang panas, pemberian makan yang tak secukupnya mempuni, tempat istirahat yang tak layak, saya rasa haruslah dipertanyakan kepada empunya apa niat dan yang ada diotak para pelaku.

Apakah mereka dengan sengaja tak ingin menghendaki adanya satu interaksi sosial?

Apakah mereka disegani karena harta kekuasaan yang nampak membuat masyarakat sana merasa menciut?

Adakah suatu indikasi hegemoni sehingga masyarakat tak urung mau untuk sedikitpun mempunyai itikad untuk, setidaknya berubah, atau bisa juga berevolusi. Karena berevolusi bisa juga berawal dari tempat tidur, itu kata Oasis.

Kemana keamanan, department perkerjaan, kelurahan, kecamatan setempat berada? apakah mereka hilang bersamaan dengan uang yang digadang-gadang oleh empunya modal? Bibit Kapitalisme dimanapun itu adalah busuk!

Ingatlah selalu bahwa dalam etos kerja maka setiap orang berkerja menurut kemampuannya, setiap orang menerima menurut kebutuhannya.

Diposting juga di komunitas kajian budaya → Kajian Budaya

Tinggalkan pesan

Comment