in Budaya, Kajian Budaya

Budaya Konsumtif Seharusnya Kreatif

Gunung Sampah Di Bandung 1

Fenomena menumpuknya sampah yang terdapat dibeberapa jalan di sekitaran Bandung telah menimbulkan, setidaknya, berbagai opini-opini dari masyarakat yang mengeluhkan kerja pemerintahan setempat yang kurang cepat dan tegas. Penumpukan sampah disertai tidak adanya tindakan yang tegas dari pemerintah daerah membuat masyarakat terganggu, sehingga melancarkan protespun menjadi sesuatu yang niscaya.

Hal ini terbukti dengan banyaknya laporan-laporan perihal aduan dan keluhan dari masyarakat terhadap penimbunan sampah, yang mengganggu aktifitas mereka, yang diterima oleh ombudsman. Apalagi setelah tragedi longsong sampah yang pernah dialami Bandung pada tahun-tahun belakang, hal itu membuat warga Bandung sedikit trauma atau sedikit sensi terhadap sampah.

Menyadari adanya laporan tersebut pihak ombudsman telah membuat suatu inisiatif untuk mengatasi hal tersebut. “Kami dari Ombudsman atas inisiatif telah melakukan pertemuan dengan PD Kebersihan Kota Bandung, ada banyak hal yang dibahas dalam pertemuan itu,” kata Koordinator Perwakilan Ombudsman Jawa Barat Heneda S Lestoto di Bandung. 2

Penumpukan sampah, atau kebanyakan orang Bandung menyebutnya dengan gunung sampah, memang telah menjadi momok menakutkan yang bisa menimbulkan beberapa ancaman serius. Barangkali contoh yang paling patut untuk diajukan adalah bagaimana sampah telah menjadi salah satu akibat dari penyebab banjir yang melanda ibu kota, Jakarta.

Selanjutnya adalah penyakit. Sampah-sampah yang menimbun, apalagi didalam air yang menggenang, tak pelak akan menimbulkan beberapa penyakit yang bisa menyerang manusia kapan saja. Baunya yang menyengat bersamaan dengan lalat-lalat yang terbang dan pemandangan tikus-tikus yang mondar mandir juga telah membuat keindahan kota Bandung menjadi nampak tak seindah mottonya, yaitu Bandung kota kembang.

Pertanyaan sekarang yang muncul adalah tanggung jawab siapakah sebenarnya terkait masalah sampah ini? Apakah hanya pada tataran pemerintah saja semua kesalahan ini dilimpahkan ataukah masyarakat juga mempunyai peran penting dalam masalah ini? Tentu jawabannya adalah kedua-duanya mempunyai peran penting untuk membicarakan hal tersebut.

Tanpa adanya kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam penanggulangan sampah akan mengakibatkan sesuatu problema yang mungkin akan berakhir pada sikap saling menyalahkan satu sama lain. Oleh karena itu hendaknya kita semua menyadari bahwa hanya dengan kesadaran bersamalah permasalahan akan cepat diatasi.

Dalam tulisan yang singkat ini saya akan memaparkan beberapa opini mengenai faktor-faktor yang menyebabkan fenomena sampah yang sekarang tengah melanda Bandung. Khususnya dengan menyinggung prilaku keseharian kita dalam bermasyarakat yang takan pernah lepas dari yang namanya sampah.

Budaya Acuh & Budaya Konsumtif

Seiring dengan meningkatnya bahan-bahan produksi yang berdasarkan kebutuhan manusia maka pada saat itu pula kita seolah-olah hidup dalam dunia konsumsi. Produk makanan, minuman, kecantikan, rumah tangga sampai pada kebutuhan hidup lainnya bisa kita beli dengan mudah sekarang.

Produksi yang ditawarkanpun memberikan penawaran yang sangat menggoda sekali, karena mereka menghadirkannya lewat mediasi yang baru, yang kelihatan lebih sempurna dari yang sebelumnya ada. Maka jangan heran apabila sekarang banyak ditemukan produksi makanan yang dikemas dengan wajah baru atau produksi minuman yang hadir dengan beberapa variasi botol yang baru.

Sekilas nampak tak ada sesuatu yang harus dijelaskan dari permasalahan diatas, namun apabila dilihat secara lebih mendalam lagi maka akan ditemukan setidaknya dua sisi yang berbeda yang diakibatkan dari proses diatas.

Disatu sisi kita bisa menikmati apa yang dihadirkan oleh produksi tersebut dan disisi lainnya kita mendapati hal yang bertolak belakang dari yang pertama. Yaitu, meningkatnya budaya konsumtif pada masyarakat. Budaya yang terakhir inilah yang menurut saya terkait dengan salah satu faktor yang harus dibenahi dalam menanggulangi menumpuknya sawah yang ada di Bandung.

Coba bayangkan apabila saya sekarang sedang menikmati minuman bersoda yang dibeli disebuah warung di Ujungberung dan anda semua sedang membeli minuman yang sama, dengan yang saya beli, ditempat masing-masing, setelah itu apabila minuman telah habis maka yang tersisa hanya botol yang menjadi sampah. Disebut juga sampah anorganik atau sampah padat.

Bila tidak ada ketaatan pada diri sendiri dalam menaati peraturan pertama prihal etika maka yang akan terjadi adalah sampah tersebut akan berakhir berserakan tidak beraturan. Itulah yang sering saya sebut dengan budaya acuh atau budaya lupa sesaat. Budaya seperti ini akan sangat merugikan manusia kalau diterapkan pada tataran budaya konsumtif tadi.

Budaya Konsumtif Seharusnya Kreatif

Satu hal yang perlu diingat dan dipegang teguh adalah kita jangan membuang sampah sembarangan. Itulah makna penting yang selalu ada disetiap papan-papan kecil yang ada dipohon taman atau dipinggir sungai. Tapi yang namanya manusia, yang tak pernah terhindar dari ceroboh, terkadang mereka mengelakan perhatian yang dikira kecil tersebut.

Apa yang terjadi dan yang terlihat disungai-sungai Jakarta dan pinggiran jalan di Bandung dengan sampah-sampah yang membludak setidaknya menyiratkan bagaimana kita memperlakukannya.

Oleh karena itu, belajar dari pengalaman, untuk mewujudkan budaya yang tak acuh setidaknya harus dimulai dari diri sendiri, sadar diri bahwa alam sekitar juga memerlukan sentuhan halus dari manusia merupakan kunci utama bagaimana hubungan dialektika yang bagus bisa dicapai. Sebaliknya apabila kita tidak menghormati alam sebagaimana ia memberi lebih apa yang kita butuhkan tak jarang ia memberi suatu hal yang menakutkan bagi manusia.

Selain hal itu juga, yang bisa menjadi harapan lain dari lingkaran budaya gelembung-gelembung diatas adalah bagaimana caranya agar kita mampu beradaptasi dengan apa yang ditawarkan zaman. Artinya seiring dengan meningkatnya sampah anorganik, akibat dari produksi yang kian menderu dan budaya konsumtif yang merayu, seharusnya kita berpikir lebih kreatif bagaimana cara memanfaatkan sampah-sampah, khususnya yang anorganik, tersebut bisa digunakan, apalagi bisa menghasilkan ide yang menjual. Dulu sampah sekarang berkah, itulah slogan yang pernah dikenalkan kementrian lingkungan hidup Indonesia.

Seperti yang dialami oleh seorang entrepreneur asal Amerika. Dan Blake, pendiri Ecoscrap, yang mendapatkan ide kreatif dari banyaknya sampah yang dihasilkan oleh Amerika dan diolah menjadi makanan lagi. 3 Selain dia maka di Indonesia, yang akhir-akhir ini mencuat, ada juga yang menghasilkan ide-ide kreatif dari sampah yang diolah menjadi robot. Dan masih banyak contoh yang tidak bisa saya paparkan disini.

Dengan sikap seperti diataslah mungkin setidaknya kita bisa membantu berperan penting untuk meringkan beban pemerintah dalam menanggulangi permasalahan sampah khususnya di Bandung. Dan dengan mengutamakan budaya yang tak acuh pula setidaknya kita telah menaati peraturan pemerintah dan peraturan abadi yang telah dititipkan Allah – sang pencipta untuk kita dan alam semesta.

31 total views, 1 views today

Referensi:

  1. Tulisan ini diikutsertakan juga didalam lomba blog bandungreview.com
  2. http://www.inilah.com/read/detail/1947374/ombudsman-dalami-aduan-penanganan-sampah-bandung
  3. http://www.huffingtonpost.com/2012/04/23/entrepreneurs-find-cash-i_n_1446240.html

Tinggalkan pesan

Comment

    • Hhe sama sih dengan saya, bukan tipe orang yang suka berbelanja. Tapi gini sob, tipe seperti itu gak apa2 juga asalkan tau diri aja nanti kemana berakhirnya sisa-sisa barang yang tak dipakai itu. hhe
      Terima kasih telah berkunjung sob, salam blogger.

  1. saya pernah ke ujung berung bandung sana, sebelumnya nggak tahu, saya kira itu cuma guyonan di tempat saya….
    Membuang sampah agak sulit ngatasinnya dgn masyarakat suka jajan yg sampahnya dibuang sembarangan. Jujur aja, saya juga masih buang sampah sembarangan hehe