Body of Lies: Tentang Perang Suriah

Hezbollah has now invaded, the Iranians are there, Russia is pouring weapons in, and anybody that believes that Bashar Assad is going to go to a conference in Geneva when he’s prevailing on the battlefield, it’s just ludicrous
McCain

Krisis Suriah yang telah berlangsung 20 bulan lebih lamanya telah menyisakan luka yang mendalam bagi seluruh umat muslim khususnya dan dunia pada umumnya. Suatu hal yang dibenarkan apabila kita melihat pada, bagaimana, situasi carut marut peperangan yang terjadi disuriah setidaknya telah menimbulkan korban lebih dari 20ribu jiwa.

Dari semula perang itu bermuara kita, yang notabennya adalah pewaris sejarah kelam pertentangan, berharap perpecahan antara pemerintah dan rakyat tidaklah akan berlangsung lama. Namun kenyataannya semua tidak berjalan berkelindan seperti yang diharap.

Perang pun tetap berlanjut dan harapan untuk kedamaian di Suriah nampaknya agak semakin kusam untuk diinginkan bersihnya. Pada kenyataannya perang yang sekarang terjadi justru lebih sengit dari pada perang diawal tahun 2011.

Pelbagai pihak dari luar Suriah mulai melancarkan intervensinya, terkait dengan hal ini mungkin ada benarnya juga kalau kiita sebut dengan adanya kepentingan, mulai dari hal sepele semisal mengecam, mengutuk dan bahkan sampai membantu mendanai kedua pihak berlawanan dalam aksi perangnya.

Kondisi ini semakin membuat kita tak berdaya dengan harapan akan kedamaian. Apalagi untuk orang-orang disana nampaknya kata perdamaian hanya menjadi sebuah klise saja karena yang dekat pada mereka, dalam kondisi peperangan, mungkin berupa suatu pertempuran yang bermuara pada kematian.

Seperti kutipan yang telah saya sertakan diatas memanglah sangat menggelitikan. Disatu sisi kita mungkin sedikit lega dengan adanya sebuah wacana perdamaian antara kubu pemerintah dan oposisi. Namun disisi lain terdapat suatu kontradiksi berlawanan, dimana kita dibuat bingung dengan kehadiran para pahlawan perang Irak, Hizbullah yang ada disuriah.

Sebelum itu bahkan para sekutu dari kedua kubu sama gencarnya dalam memberikan suatu bantuan baik berupa makanan yang ringan saja sampai kepada senjata yang berat luar biasa. Terakhir yang saya dengar adalah pihak Rusia, yang cenderung memihak pada pemerintah Assad, membantu dengan mengirimkan beberapa rudal canggih.

Pengiriman rudal yang dikirim Rusia bukanlah tanpa alasan. Melainkan hanya sebutir benih yang sewaktu-waktu bisa bermekaran. Sama halnya dengan bagaimana kehadiran Hizbullah disuriah yang membantu tentara Assad dalam berperang melawan oposisi.

Hal tersebut mengindikasikan banyak hal. Selain memunculkan beberapa opini yang mengherankan “Koq sesama muslim saling serang?” hal tersebut ternyata berhasil menguatkan opini publik tentang prahara antara Sunni dan Syiah.

Pelbagai Opini Publik

Dampak perang yang terjadi di Suriah selain mengakibatkan banyak korban ternyata telah menimbulkan suatu kekalutan simbolik yang meluap tak kentara dibelahan dunia manapun. Dengan hadirnya media, sebagai fasilitator, hal tersebut sangat menguntungkan untuk menggambarkan rasa diri yang menggebu untuk menuliskan kembali rasa itu kedalam sebuah tulisan maya.

Suatu wujud mulia yang baik sekali untuk menggambarkan perasaan melewati sebuah tulisan apabila yang ditulisnya tersebut tidak menimbulkan suatu pemikiran yang bisa memihak satu sama lain. Yang terjadi didumay, dunia media, saat ini justru telah melahirkan beberapa wacana yang kurang lebih mengarah kepada beberapa isu terkait perang di Suriah.

Tentu yang paling banyak disorot dari permasalahan ini, selain sumber daya alam, adalah wacana benturan antara Sunni dan Syiah. Seperti yang telah banyak dijelaskan oleh beberapa sumber bahwasanya kebanyakan Islam disana adalah sunni dan syiah tidak sebanyak sunni. Akan tetapi jumlah yang sedikit itu menjadi sebuah kekuatan karena mereka, dari berbagai wacana cenderung syiah, mempunyai jabatan dalam struktur kepemerintahan.

Semenjak adanya pembahasan tersebut, saya masih ingat, maka banyaklah media-media yang menaruh perhatian pada sejarah Bassar Assad, meliputi sejarah alawi, dari semenjak dahulu sampai sekarang berkuasa.

Bila kita merunut pada sejarah perkembangan Islam, yang bisa kita temukan dalam buku bahkan dalam blog-blog, mungkin kita akan mendapati bahwa antara Sunni dan Syiah mempunyai sejarah yang tak begitu putih untuk dijadikan suatu harapan. Sampai sekarang pun clash diantara keduanya masih berlanjut.

Wacana-wacana tersebut semakin dikuatkan kembali dengan melihat bagaimana sikap Iran dengan Hizbullah nya disisi lain yang lebih cenderung memihak kepada Assad. Inilah yang menjadikan suatu polemik simbolik bagi kita yang berada jauh diluar medan pertempuran.

Perang simbolik antara kedua kubu menjadi suatu pembahasan yang elok bagi umat muslim disini. Bila tidak menaruh curiga pada apa yang didapat kita mungkin hanya berada pada bias fatamorgana. Karena tidak sedikit pula dari mereka yang berbagi, curahan hati, mengenai cerita yang sebenarnya terjadi disana.

Perang simbolik ada baiknya kita samakan dengan kekerasan bentuk simbolik yang pernah didefinisikan oleh Galtung. Perang simbolik tidak seperti perang fisik, adu jotos atau beradu senjata melainkan suatu perang yang berkecimpung dalam dunia pemikiran dan argumentasi. Kedua perang itu terwujud dari, seperti contoh, elemen-elemen yang mengatasnamakan diri mereka berada di pihak yang mana dengan menyertakan berupa fakta-fakta yang bisa membuat pikiran kita meyakini apa yang ditulisnya benar.

Banyak dari kita yang berusaha untuk membuka ta’bir sesungguhnya tentang peperangan di Suriah sana. Perang Suriah setidaknya telah membuat kita menjadi beberapa golongan yang memihak pada dimana kita berperang melawan secara simbolik?

Ketika kita meyakini bahwa pasukan oposisi berjuang untuk menegakan keadilan maka disisi lain ada yang menyebutkan bahwa mereka itu dibiayai oleh Israel, Amerika dan lain-lain. Apabila menang kelak mereka akan menjadi boneka yang mendanainya.Begitupun sebaliknya Assad banyak membantai kaum Sunni dengan bantuan Iran dan Hizbullah.

Saya jadi teringat akan film Body of Lies, film yang dibintangi Leonardo Dicaprio, yang menceritakan tentang terorisme global. Akan tetapi bukan pada kontek terorismenya saya teringat melainkan pada bagaimana film tersebut membuat kita tak berdaya untuk berpikir siapa sebenarnya yang jahat dan siapa sebenarnya yang baik?

Dampak Perang Simbolik

Bersambung

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

6 thoughts on “Body of Lies: Tentang Perang Suriah”

    1. Saya, kita dan semua umat manusia berharap semua damai πŸ™‚ Namun keinginan tersebut selalu urung karena mungkin setan takan sudi melihatnya. he
      Terima kasih sudah berkunjung mas. Salam.

  1. Semoga Suriah dan semua negeri yang tengah dilanda peperangan segera dianugerahi kedamaian : )
    Perseteruan Syi’ah vs Sunni memang sudah berakar kuat sejak zaman dulu sih. Masing-masing mengklaim kebenaran dengan yah, tumbal nyawa kaum muslimin sepanjang zaman. Tragedi Karbala, kaum Ismailiyah, perang Chalderan, pembantaian Qizilbasy, pembunuhan bla bla bla…
    Terkadang saya sendiri masih ragu sama buku sejarah yang ditulis para ulama mu’arrikhin (sejarawan) ttg perseteruan Sunni-Syiah, tapi begitu melihat fakta kini yang terjadi di Iraq, Iran, Lebanon, dan Syria… semuanya tampak semakin jelas dan kata-kata para sejarawan seperti terpampang nyata. Seperti kata rekan saya yang dulu ngambil sanad Al-Qur’an di Damaskus ketika saya bilang bahwa perang Sunni-Syiah itu kayaknya hanya anggapan segelintir orang;
    “Karena kamu, belum melihat dan merasakan dengan real perbedaan besar antara dua kubu yang disebut Sunni dan Syiah. Di Damaskus, ada makam Shalahuddin Al-Ayyubi dan makam Sayyidah Zainab. Makam Shalahuddin diziarahi orang Sunni dengan bacaan Fatehah sementara orang Syiah yang melewati makam itu akan menyampaikan laknat karena dendam sejarah. Begitupula saat orang Syiah merayakan hari Asyura di Sayyidah Zaenab, orang Sunni akan mencibir melihat orang-orang yang meraung-raung meratap di makam tersebut karena menganggap itu adalah upacara mungkar”
    Allahumma farrij ‘alas Suriah wa ahlaha… Aamiin

    1. Assalamualaikum …
      Terima kasih mas mamet sudah berkunjung ke blog ini. Mungkin semuanya sejarah yang akan menjawab, terlepas dari itu kita mungkin masih menunggu apakah perang ini akan berdampak pada wilayah-wilayah lainnya, baik itu wilayah secara geografis atau ideologis.

      Weonlycanprayforthose.Prayforsyrianpeople πŸ™‚

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *