in Agama

Setelah tiga bulan lamanya berdiam diri tak bertemu dengan teman sejawat perkuliahan, rasanya ada sesuatu yang hilang. Paling tidak yah rasa kehilangannya adalah rindu akan suasana kelas pascasarjana yang seringkali diwarnai berbagai perasaan he. Alhasil ketika tiba waktu perkuliahan dimulai, rasa yang membuncah itu terasa mencair manakala melihat mereka diteras-teras gedung perkuliahan.

Obrolan dari yang berbobot ringan semisal bertanya kabar atau hanya melepas senyum kangen, sampai kepada obrolan yang berhubungan dengan perkuliahan pun mulai disinggung.

Oleh karena magister saya adalah sejarah kebudayaan islam maka isu-isu, baik yang meruncing ke masa lalu atau yang menerka ke depan, selalu saja ada. Namun yang berhubungan dengan pertemuan saya dengan teman-teman kemarin adalah wacana islam berkemajuan dan islam nusantara dan beberapa hal lainnya.

11880872_10207529785027028_2078513553_nHal tersebut terjadi karena teman-teman perkuliahan saya datang dari berbagai organisasi berbeda, diantara mereka ada yang anggota NU, ada juga PUI, Suryalaya, Muhammadiyah dan bahkan dari Ijabi.

Sepintas kalau melihat pada wacana-wacana horizontal yang sering kita dengar di beberapa media, memang benar bahwa organisasi diatas tersebut banyak diceritakan suka tak sejalan dalam beberapa hal.

Akan tetapi yang ada pada kelas yang saya alami, selama perkuliahan, justru tidak terdapat perihal-perihal buruk selain beberapa debat kecil sahaja he.

Semester 3: Antara Iya dan Tidak

Maksud dari subjudul tersebut hanya harapan sahaja dari saya sendiri mengenai perkuliahan. Maksud hati ingin sekali bahwa disemester tiga ini saya harus bisa meloloskan proposal thesis yang akan diperjuangkan pada semester selanjutnya.

Tapi yah sampai sekarang saya nulis, ide-ide untuk memulai thesis belum dapat sama sekali. Bahkan untuk memulai kata “latar belakang” pun saya merasa malu, karena waktu untuk mengetik kata-kata selanjutnya akan habis oleh berpikir.

Walau begitu memang sejatinya insan manusia, segimana tenangnya mereka, harus tahu betul bahwa kadang Allah memberikan kepada kita momen-momen untuk keluar dari kesusah payahan.

Satu-satu jalan untuk keluar dari hal tersebut yakni berusaha, diusahakan dan terus berusaha untuk bisa keluar dari lingkaran rantai momen susah payah tersebut.

Walau dimanapun kita berada perjuangan harus tetap diupayakan, begitulah Sukarno menulis note pendeknya ketika mendekam di lembaga permasyarakatan Sukamiskin, Bandung.

Rasa menggebu untuk mengerjakan thesis pada semester tiga sekarang tambah menggebu manakala melihat salah seorang teman sudah mengerjakan lembaran proposal dengan membahas perbandingan “histoririografi penulisan sejarah nabi antara wiranatakusumah dengan salah satu dosen pengampuh sirah nabawi ditempat kita belajar.

Tema historiografi memang tema yang sudah jauh hari dipersiapkan oleh salah satu teman saya, yang bernama Kang Ahmad. Dia, dalam proposalnya, menggunakan teori heurmenetikanya Gadammer dan beberapa teori yang berhubungan.

Semoga saja untuk kedepannya saya bisa menemukan berbagai hal penting dalam proses pengusahaannya. Allah maha mengetahui segala urusan setiap hambanya.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment