in Napak tilas

Mensyukuri kebesaran Allah bisa dilakukan dimanapun. Salah satunya, dan mungkin tempat yang paling favorit untuk memunajatkan hal tersebut, adalah gunung. Dalam Agama yang saya cintai, Gunung mempunyai peran sangat vital dimuka bumi ini.

Ia dikatakan sebagai penopang paling kokoh pada hamparan bumi yang luas. Sebagaimana yang tersirat dalam Al Quran Surah Al-Naba 6-7: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan, dan gunung-gunung sebagai pasak?”dan surah Al-Anbiya ayat 31: “Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu (tidak) goncang bersama mereka….

Dalam beberapa literatur yang banyak menjelaskan tentang keajaiban Al-Quran, akhir-akhir ini para peneliti kealaman banyak menemukan gejala yang sangat mirip dengan penjelasan Al Quran tersebut. Sebut saja penjelasan mengenai pertemuan antara air sungai dan laut, gunung pelangi yang ada di China, sungai didalam lautan dan lain-lain.

Kembali lagi kepada Gunung, dikatakan bahwa seorang Profesor Emeritus Frank Press menemukan hasil penelitian yang mengejutkan. Dalam bukunya yang berjudul “The mountains, like pegs, have deep roots embedded in the ground.” Ia mengatakan bahwa “Gunung, seperti pasak, berakar di dalam tanah” itu, ia lebih lanjut mengungkapkan apabila gunung dibelah berbentuk irisan maka akan terlihat akar atau alur bersama lava yang mengikat kuat di dasar tanah. 1 Dan masih banyak lagi para ahli yang berpendapat sama dengan Prof Emeritus tadi.

Sejatinya ketika mendengar hal diatas, wujud penting yang harus dilakukan oleh seorang Muslim adalah mensyukuri dan tiada henti untuk memuja kebesaran Allah. Sungguh tak terhingga dalam daya pikir untuk bertanya bagaimana Allah bisa menciptakan kehidupan ini. Inilah sejatinya latarbelakang saya ketika mempunyai keinginan untuk berkunjung ke gunung.

Yang paling saya hindari ketika ingin menjelajahi alam raya ini adalah saya tidak sedang mempunyai keinginan untuk menaklukan. Oleh karena itu saya selalu menghindari kalimat yang bernada “taklukan, menaklukan dan lainnya yang serupa”. Bagi saya alam tak pernah kalah dengan manusia, justru alamlah yang membuat kita kecil, kecut tak bernyali kalau kita berlagak sok berani. Well sayapun tidak menyalahkan bila ada orang lain yang berkata demikian.

Bermalam Di Gunung Rakutak

Kalau boleh jujur, keinginan saya untuk bermalam di gunung bukan merupakan keinginan yang tiba-tiba alias terbawa arus, yang katanya banyak ditularkan oleh film, 5cm. Jauh-jauh hari sebelum film itu keluar saya sudah sering ke Gunung, meski belum mencapai puncak-puncak yang selalu dirindukan. Keluarga saya asli dari Palintang, sebuah desa kecil yang ramah dan sejuk disetiap harinya yang terletak diantara gunung Manglayang dan gunung Palasari.

Dan sebelum saya ke gunung Rakutak pun terdapat beberapa gunung yang pernah saya singgahi seperti Kelud, Bromo, dan Papandayan. Akan tetapi perjalanan tersebut tidak sampai bermalam, melainkan hanya menyambanginya saja.

Berbeda dengan momen ketika saya dan teman-teman mengunjungi gunung Rakutak. Dan entah kenapa pada waktu itu saya ingin bermalam saja disana dibandingkan pulang pergi alias tik tok.

Dan beberapa teman yang lain sudah pada fix untuk mengikuti rencana bermalam di gunung Rakutak. Akhirnya terdapat 6 orang yang rencananya akan bermalam di gunung Rakutak. Pemberangkatan awal kami adalah tepat di depan kampus Universitas Islam Negeri Bandung. Rute selanjutnya adalah jalan Gedebage lurus terus sampai akhirnya di Pacet.

Titik poin selanjutnya adalah tempat dimana kami harus melapor pada pengurus atau pecinta alam yang sudah ada disana. Hal ini sangat penting sekali untuk diperhatikan manakala mendaki gunung. Fungsi dengan adanya titik ini adalah agar mendata siapa saja yang mendaki dan juga untuk mengatahui manakala ada hal-hal yang tidak diinginkan. Coba bayangkan bila kita, misalnya mendaki gunung Ciremai melalui jalur ilegal tanpa ada data di pos utama dan tiba-tiba terdapat kecelakaan di puncak ketinggian, akan seperti apa melacaknya?

12773170_10208667314144545_39171978_o

Gunungnya tidak kelihatan bro!

Pada waktu itu kami memilih pagi hari sebagai waktu pemberangkatan. Selain menghindari hujan kamipun menginginkan suasana yang sejuk ketika melakukan pendakian. Ditempat ini kami mendapatkan pengarahan dari pengurus yang ada disana seperti jangan merusak alam, mengambil beberapa batang pohon untuk disimpan di pos pertama dan lain-lain.

Pendakianpun dimulai dengan melewati beberapa perumahan penduduk yang damai sebelum bertemu dengan pemandangan gunung dengan sawah yang selalu nampak dari gambar legendaris pada waktu kita masih kecil.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya ada dua jalur pendakian yang selalu dilewati kalau kita hendak mendaki Rakutak. Kebetulan jalur yang kami tempuh waktu itu merupakan jalur yang ramah. Artinya jalurnya biasa saja meski sesekali ada tanjakan yang membuat kami agak fokus.

Perjalanan yang boleh dibilang sangat menantang justru berada dititik jalan sebelum mencapai pos 1 gunung Rakutak. Perjalanan yang sudah memakan waktu 1 jam akan sangat terasa disini. Karena tanjakan yang kami temui waktu itu cukup terjal dan lumayan menguras tenaga yang hampir habis.

Alhamdulillah kami berhasil mencapai pos pertama dengan selamat. Rasa syukur pada waktu itu bertambah ketika melihat pemandangan yang bisa kami lihat di pos pertama ini. Kamipun akhirnya memutuskan untuk mendirikan tenda di pos ini dengan beberapa alasan.

Hujan dan Sebahagian Cerita Malam Di Gunung Rakutak

12788015_10208667357225622_1705132974_n

Pos pertama Rakutak

Ketika kami sudah mendirikan tenda tiba-tiba hujan mulai menyambangi, seiring kabut yang mulai membuat mata kami kehilangan pandang tepat kearah pegunungan yang luas disebelah selatan. Sementara tenda berdiri, kami berenam berkumpul di pos dan sedikit berbagi cerita, berkenalan satu sama lain mengungkapkan cerita yang ngawur kesana kemari.

Ada sebahagian cerita lain yang saya harus utarakan disini. Mungkin akan bermanfaat bagi teman-teman yang ingin bermalam digunung Rakutak. Tak lain mengenai air yang ada di pos pertama. Siang hari tadi, tepat ketika kami sampai di pos pertama, air masih mengalir dengan derasnya namun lama kelamaan air tersebut tidak mengalir seperti seharusnya.

Singkat cerita saya dan salah satu seorang teman saya menyusuri aliran keran yang kami yakini berujung di sungai yang bersih nan dingin menusuk kalbu. Lama perjalanan dari pos pertama ke mata air yang keran tadi lumayan agak jauh. Tapi perjalanan tersebut akan terbayar tepat ketika kami sampai di sungai kecil yang airnya mengalir cukup deras. Tanpa menunggu lama, saya dan teman tadipun, sedikit membilas kepala dan wajah, segernya bro!

Dan malampun tiba dengan berjuta gelap yang nampak dimata. Sebenarnya kami berharap bintang sebentar saja menyapa tepat ketika kami makan malam dibawah rembulan namun nampaknya tak banyak bintang yang bisa kami lihat. Alhasil kami tidur dalam kedinginan dan kegelapan serta kesepian (curhat pribadi yang lagi jomlo).

Menuju Puncak Rakutak

Sesuai rencana yang telah kami sepakati bahwa pendakian ke puncak akan dilakukan tepat setelah kami melakukan sarapan. Beberapa peralatan pendakian yang kami bawa kemarin sebahagiannya disimpan di pos pertama. Hal ini dilakukan agar beban berat kehidupan, eh beban menuju puncak bisa sedikit lebih ringan.

12787998_10208667396146595_1770314682_n

Puncak Bayangan.

Bisa dibilang pada saat inilah jalur pendakian menuju puncak baru bisa dikatakan ngeri banget. Sepanjang jalan kepala ini cangkeul melihat keatas terus sedangkan kaki mengangkat. Andaikan pendakian dilakukan seorang diri, mungkin rasa lelah akan sedikit membuat saya resah, gelisah atau bahkan muntah. Sesampainya kami di tegal alun ada beberapa momen yang tersisa disana, yah lewat fotolah kelak kami akan bercerita.

Dari tegal alun ke puncak bayangan letaknya lumayan cukup terjal namun masih bisa dilewati dengan santai. Apalagi ketika kami sampai dipuncak bayangan, akan nampak pada teman-teman sekalian pemandangan luar biasa yang bisa membuat bulu kuduk berdiri. Tapi jangan lupa untuk bersujud atau berdoa dengan ketakjubannya tersebut bro!

Nah pemandangan dari puncak bayangan ini sangat indak sekali. Disekeliling kita terdapat gunung-gunung yang masih terlihat asri. Namun fokus perhatian saya waktu itu yah tentu puncak dari Rakutak itu sendiri yang lumayan masih jauh. Kami harus melewati jalur yang katanya hanya sekitar 5cm saja.

Dan memang bener sih ketika saya melewati punggungan sebelum ke puncak Rakutak, lebar jalan tersebut hanya muat dua orang pas saja, terkadang ada jalur sempit yang kayanya tidak masuk kalau berpas-pasan dijalur yang terkenal dengan sebutan Sirratolmustaqim.

12784805_10208667418667158_792454631_n

Bersambung..

Info: Selain kita bisa menginap disana, di Rakutak ini kita bisa melakukan jalur lintas alias tik tok tapi lintas ke daerah Kamojang, Garut. Ketika tepat didaerah Garut kita akan disuguhi oleh keindahan Danau Ciharus, yang dikatakan sebagai Ranu Kumbolonya Jawa Barat.

Info 1: Tulisan selanjutnya mengenai Rakutak akan dibahas dari sisi sejarah. Yakni mengenai kisah ditangkapnya Kartosuwiryo oleh pasukan Siliwangi.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Referensi:

  1. Dikutip dari Repubilka online

Tinggalkan pesan

Comment