in Kajian Budaya, Sejarah

Benih Revolusi: Pertentangan dan Pembangkangan

kajian-budaya

Benih Revolusi: Pertentangan

Sejarah perkembangan kehidupan manusia adalah sebuah cerita pertentangan. Ia menjadi satu yang berbeda karena terjadi suatu ketidaksamaan keadaan hidup. Hubungannya tidak beriringan secara harmoni, sebagaimana jalan yang lurus tak berkelok, karena pada satu masa, dimana sebuah proses kehidupan itu berlangsung, selalu terjadi beberapa sebab akibat yang selalu berkelindan.

Sejatinya, dalam kehidupan manusia dibumi, sungguh telah berlalu bagaimana sejarah peradaban manusia bergulir tidak selalu searah, ia melingkar tidak selalu sama dalam satu posisi yang sama. Bila dahulu terdapat peradaban Yunani, bersamaan dengan para Filsuf yang terkenal sedari dulu sampai sekarang, dan juga pada peradaban Islam yang gemilang namun seiring waktu ia memudar, sampai pada peradaban sekarang, yang notabennya adalah peradaban orang-orang barat yang cemerlang.

Sejarah melingkar dalam peradaban adalah sebuah pelajaran berharga bagi keberlangsungan hidup. Ia begitu penting karena menyangkut kehidupan seluruh manusia secara bersama tanpa ada satu kuasa yang cenderung mengukir peradaban itu secara tak adil.

Meskipun ketentuannya begitu, akan tetapi, manusia tetaplah menjadi sebuah tempat dimana sifat pembangkangan itu berada. Seperti melupakan sebuah keniscayaan, maka dalam beberapa sejarah peradaban selalu terdapat manusia yang mengukir sejarah kelam.

Hukum kepastian dalam peradaban adalah benar adanya. Ia tidak benar-benar memihak kepada siapa peradaban gemilang dipegang akan tetapi ia dengan pasti memihak kepada kepastian hukum peradaban.

Apabila tampuk peradaban berada pada kuasa yang tak mengindahkan ketentuan kehidupan kebersamaan maka secara dengan pasti ia akan memudar seiring dengan pelbagai permasalahan-permasalahan yang mengikis.

Ibnu Khaldun, dalam kitab nya, Muqodimmah, banyak menguraikan bagaimana manusia mengukir kehidupannya dari tingkat paling dasar sampai kepada kehancurannya. Bermula dari kehidupan manusia yang berpindah-pindah, menetap, membangun sebuah desa yang berlanjut kepada tingkat perkotaan dan Negara sampai kepada perluasan yang melahirkan peradaban. Setelah semua itu berjalan secara bertahap, maka sampailah ia pada tahap pengembangan manusia dalam keahlian-keahlian.

Setelah ia mendekati tingkat kesempurnaannya maka terdapat suatu problema manusia dalam menerima status kehidupannya dibumi. Dengan tampuk peradaban gemilang yang ia alami nampaknya sifat-sifat membangkang manusia atas anugerah Allah selalu saja terjadi.

Suatu semangat peradaban yang awalnya lebih kepada satu semangat kebersamaan dalam mengolah kehidupan telah berubah menjadi suatu sifat kemalas-malasan, kesenangan akan harta, dan ketiadaan rasa solidaritas antar manusia.

Benih Revolusi: Pembangkangan

Dalam catatan sejarah, maka kita banyak mendapati bagaimana posisi orang yang berkuasa adalah orang-orang mempunyai pengaruh besar dalam sebuah peradaban, khususnya keruntuhan peradaban.

Ketentuan peradaban yang sejatinya adalah tingginya solidaritas antara sesama manusia telah memudar, dan mungkin bias untuk diterangi. Bukan hanya solidaritas sosial saja yang kian waktu kian tergerus, mereka pun sudah terjangkit dengan sifat cinta akan dunia dengan berlebihan.

Bila yang demikian tersebut sudah terjadi tanpa adanya suatu pelajaran yang berharga maka pada waktu tertentu hal tersebut telah mengundang benih revolusi dan pertentangan dari beberapa elemen masyarakat.

[alert type=”success”]Yang berkuasa telah banyak menipu rakyat, ia lebih mementingkan kepentingan dirinya sendiri, berserta keluarganya semata, dan kepentingan partainya sahaja. Ia tidak mau peduli pada keadaan masyarakat yang kian hari kian susah untuk mencapai kata bahagia. Telah terjadinya pembelokan beberapa fungsi pejabat yang mengakibatkan rasa kecewa dari masyarakat.[/alert]

Yang berkuasa semakin terlena akan harta dan yang satu lagi semakin tertegun hatinya untuk melawan penguasa yang jahat tersebut. Itulah ketentuan peradaban dalam satu periode, dimana ketika terdapat pengelakan akan niat awal manusia dibumi maka ketentuan Pencipta pun nampak akan terjadi, tanpa pandang bulu.

Ditambah dengan bertambah banyaknya para penguasa lain yang terlibat korupsi, bermain wanita, saling membunuh dan sebagainya, maka hal tersebut tidak menjadi satu kesadaran berarti bagi masyarakat yang berada dibawah.

Benih Revolusi: Kemiskinan

Kemiskinan yang merangkul masyarakat dibawah terkadang mampu menjadi satu buah kekuatan kecil yang besar bagi pemberontakan. Sebagaimana Aristoteles pernah mengungkapkan bahwa kemiskinan adalah sumber dari revolusi dan kejahatan.

Kemiskinan, ditambah dengan sikap penguasa yang tak mengindahkan penderitaan rakyat, menjadi sebuah benih kehancuran dalam sejarah tampuk peradaban. Bila sahaja ia tidak ditanggapi dengan seksama baik oleh pemerintah atau pihak yang bertanggung jawab maka ia akan mejadi boomerang fatal bagi proses kehidupan bernegara.

Kemiskinan berhubungan dekat dengan eksistensi manusia yang mempunyai keinginan kuat untuk berjuang. Dari semua itu nampaknya harapan adalah unsur penting bagaimana manusia bisa dengan leluasa melihat arah kedepan. Namun siapa sangka, tidak semua orang mampu melihat dirinya benar-benar berada dalam jalan yang benar. Terdapat dari beberapa orang yang melihat sinar harapannya gelap dan itu menggelapkan  dirinya.

Ditengah kehidupan para penguasa yang tak perduli dengan kehidupan rakyatnya, keniscayaan pun sedikit demi sedikit semakin terbuka. Banyak rakyat yang kecewa atas kehidupan mewah para pejabat, melakukan demonstrasi, banyak rakyat yang menginginkan upah gaji yang setimpal dengan cara kerja mereka yang banyak menguras kekuatan fisik dan banyak rakyat yang ingin hidup lebih baik dengan satu cahaya harapan baru yakni digantinya seorang pemimpin.

Benih revolusi, pertentangan, pembangkangan, revolusiPertentangan dalam kuasa sangat lazim terjadi bilamana satu kuasa mempunyai definisi sesat antara hubungan kuasa dan dikuasai. Keadaan biner ini sangat menyulut hati para rakyat oleh karena hubungan seperti itu seharusnya terbalik, ia harus bersikap sebaik-baiknya kepada rakyat, yang mempunyai ruang lingkup “dikuasai”.

Kita banyak menyaksikan proses revolusi yang pernah terjadi didalam kehidupan. Seperi yang tadi ditulis dimuka, bahwa revolusi akan sangat elok bila ditempatkan pada kontek peradaban, kuasa dan rakyat. Ketiga hal tersebut berhubungan satu sama lain. Bila yang satu terabaikan dari jalur yang benar maka salah satu dari ketiganya akan melenceng dari jalur yang searah.

Sejatinya benih revolusi yang terjadi, misal di Francis, Amerika, Vietnam dan di Indonesia, adalah perubahan pada wacanan politik. Barangkali benar bila revolusi ini termasuk pada ranah peradaban, kuasa dan rakyat. Ada nya ketidakharmonisan dalam struktur ketiga tersebut akan memunculkan benih revolusi, yang mana pada waktu-waktu tertentu benih revolusi tersebut akan benar-benar terjadi dan memporak-porandakan kuasa yang tak sejalan.

[stag_alert style=”green”]Bersambung ke postingan berikutnya[/stag_alert]

Tinggalkan pesan

Comment