Batu Menangis; Melihat Fenomena Dalam Pandangan Mircea Eliade

Penemuan batu besar di daerah Tarogong – Garut yang diberitakan menyerupai sesosok bayi mungil pada waktu yang lalu telah membuat gempar orang-orang sekitar dan diluarnya. Dengan kehebohan beritanya yang cepat tersebar melalui beberapa media maya menjadikan tempat itu menjadi tempat yang luar biasa. Beberapa pelancong dari luar daerah pun datang berbondong-bondong mengunjungi hanya untuk mengabadikan batu tersebut, mengambil gambar dan guna mengatahui batu tersebut secara lebih dekat.

Bila dilihat – meski dalam foto yang telah tersebar luas – memanglah benar bahwa sepintas batu itu menyerupai wajah manusia, seperti bayi. Kepala yang besar, mata yang terlihat sedang merenung, dan sebuah tangan yang persis berada dibawah dagunya telah menimbulkan sesuatu imaji terdalam bagi umat manusia. Tak khayal maka berbagai alasan imaji mistis mulai tercipta dan bertebaran mewarnai kisah batu malang tersebut.

Matanya yang tadi terlihat sipit karena merenung dipercayai oleh karena adanya sesuatu sebab yang menyebabkan akibat. Ada yang berpendapat bahwa mungkin ia menangis karena kekecewaan yang mendalam karena lahan yang ada disekitarnya mulai terlihat gersang. Ada juga yang bilang bahwa ia menangis karena merasa dirinya telah terasing sebab terlempar dari serpihan merapi gunung setempat.

Orang pertama yang melihatnya adalah sosok penting bagaimana semua kejadian ini bermula. Karena dari padanya telah tercipta suatu fenomena yang melahirkan kerinduan dari manusia – manusia akan hal-hal yang bersifat misteri. Sebuah kerinduan yang dirasa tak bertepi apabila dilihat secara jelas karena ia berada pada sisi imajinasi manusia yang penuh kontradiksi. Yang awal mula ialah hal biasa dari kehidupan menjadi sesuatu yang terlihat kaya akan perasaan namun bersifat simbolik.

Bila sudah terjadi begitu maka jangan heran kita banyak menemukan kisah-kisah lain yang serupa dengan batu menangis ini. Semisal batu ajaib ponari yang bisa menyembuhkan beberapa penyakit hanya dengan disentuh sahaja. Dari responnya pun sedikit sama dibandingkan dengan yang akhir-akhir ini terjadi yaitu antusiasme yang elok dari beberapa manusia-manusia kita terhadap hal-hal yang dirasa tak biasa.

Ada yang harus sedikit dipaparkan mengenai kenapa fenomena diatas itu berjalan. Karena kita sedikit percaya bahwa tiadalah ada sesuatu yang kebetulan, dan kalaupun itu mungkin itu hanyalah peralihan dari ketidakjelasan kita melihat sifat kebetulan tadi. Sekiranya ada dua hal yang membuat fenomena ini menarik untuk dituliskan dalam sebuah catatan ringan.

Marilah kita melihat fenomena ini dengan menggunakan kacamata Eliade. Oleh karena pembahasan-pembahasannya dirasa mungkin bisa menjadi sebuah jembatan penghubung antara rasa yang kagum sekaligus penasaran akan fenomena diatas. Khususnya ketika Eliade berbicara tentang yang sakral, profan dan kerinduan mendalam manusia.

Yang Biasa Menjadi Luar Biasa

Orang yang pertama kali, bersama yang lainnya, yang merasa atau melihat batu itu menangis adalah hal yang penting untuk diketahui. Ini sangat dibutuhkan untuk sedikit membuka tabir fenomena batu menangis. Apakah yang mereka lihat itu adalah nyata? Ataukah mereka mempunyai sebuah rasa ingin untuk kembali kepada sesuatu yang berada diluar jangkauannya karena sifat besar alam yang Eliade katakan “Dalam perjumpaan dengan yang sakral, kata Eliade, orang-orang merasa bersentuhan dengan sesuatu yang bersifat duluar duniawi. [ 277: 7 Teori Agama ]

Hemat saya Negara kita adalah Negara yang memiliki akulturasi budaya yang mengagumkan dimulai dari kebudayaan lokal dan ajarannya, hindu, budha, Islam dan budaya global. Semua peralihan dari rangkaian sejarah tersebut telah menjadikan Indonesia sebagai Negara dengan kekayaan budaya yang tidak bisa dibayar dengan uang semata. Semua peralihan tersebut membawa ceritanya masing-masing. Ada yang sifatnya memperkaya satu sama lain dan ada juga yang sebaliknya, menghilangkan satu sama lainnya. Satu yang harus kita pikirkan adalah “Semuanya berjalan memutar sesuai dengan perkembangan zaman, materi, ruang dan waktu yang berbeda”

Dengan proses yang begitu kita juga harus lebih membuka diri bahwa meski dizaman yang serba realis dan tekhnologi ini masih ditemukan ada sebagian orang yang menjungjung tinggi wujud-wujud besar dibalik kekuatan supranatural cipta kehidupan. Orang-orang tersebut mendapat sebutan “archaic people” adalah orang-orang yang telah hidup pada masa prasejarah atau orang-orang pada masa sekarang yang hidup didalam masyarakat suku dan kebudayaan rakyat pedalaman, tempat-tempat dimana kerja didalam dunia alam – berburu, memancing, dan bertani – adalah rutinitas sehari-hari. [ 275: 7 Teori Agama]

Konsep Eliade ini mengacu kepada tingkatan pertama – dari rangkaian saya – diatas. Semua rutinitas yang disebutkan Eliade diatas sangatlah mirip dengan kondisi masyarakat Indonesia dahulu sampai sekarang. Walau dibanyak tempat telah terjadi suatu proses yang berkala – akan memanjang terus menerus – yaitu peasant in the cities or cities in the peasant -perkampungan dalam kota atau perkotaan didalam kampung.

Beragam suku dengan kekayaan kebudayaan/kearifan lokal masih banyak kita temukan di Negara maritim ini. Mereka biasanya tinggal dan hidup dipedalaman-pedalaman untuk berusaha menjaga kelestarian ajarannya yang luar biasa – meliputi hal sakral dan profan. Seiring dengan waktu mungkin terjadi suatu penyebaran-penyebaran keturunan mereka yang berpindah dan menetap dikehidupan yang jauh dari pedalaman.

Karena sejarah berkata demikian maka cara berpikir dan bagaimana manusia berinteraksi dengan alam-pun masih ada yang memegang kuat terkait ajaran-ajaran terdahulu. Mungkin inilah sebab mengapa ada sebagian orang dari kita masih mempercayai hal-hal yang biasa tapi menjadi luar biasa yang bisa memiliki kekuatan sakral.
Kekayaan simbolik ini telah memperkaya mereka yang bisa memaknai batu tersebut menjadi sesuatu batu yang luar biasa. Yang dari hanya unsur alam sebagai profan ditransformasikan menjadi sesuatu yang lebih dari pada profan. Mereka mungkin bertemu suatu keadaan yang disebutkan Eliade sebagai keadaaan yang tepat – untuk memutuskan , ketika segala yang profan dapat diubah menjadi sesuatu yang lebih darinya – cap atau tanda dari yang bukan profan, tetapi yang sakral. [286: 7 Teori Agama]

Nostalgia Manusia Akan Hal Yang Diluar Jangkauanya

Awal mula mendengar berita heboh ini sedikit membuat saya melakukan perenungan yang sederhana saja. Menurut saya batu itu menjadi mirip dengan wajah manusia karena memang ia sama menjalani hidup dengan sebuah pertentangan. Ia seperti itu mungkin karena alam membuatnya seperti itu; bisa jadi karena hujan, dingin, angin atau yang lainnya.

Semua itu memang selaras dengan apa yang telah Eliade katakan dimuka sebagai proses dialektika sakral namun dialektika yang saya maksud ini memiliki perbedaan dengan dialektika sakral Eliade diatas yakni dialektika materialis. Begitulah sama ketika Disbudpar menyelidiki batu tersebut dan memberikan suatu hasil temuanya yang sama dengan yang saya yakini.

Meski penemuan yang dilakukan disbudpar sudah dirasa cukup untuk menerangkan bagaimana semua itu terjadi tapi untuk memecahkan bagaimana sebagian orang, yang percaya bahwa terdapat segala sesuatu yang kuat terdapat pada alam, mempu memaknai dirinya dengan proses simbolik terasa tidak semudah menemukan data, analisis lalu kesimpulan. Karena dalam hal-hal semacam itu, akal manusia tidak dalam tugas transaksi. Simbol dan mitos memberi daya tarik pada imajinasi, yang sering hidup diatas ide kontradiksi. [287: 7 Teori Agama]

Terdapat suatu proses abadi yang selamanya akan ada hidup seiring manusia dan kehidupan berjalan. Kerinduan yang terlihat dari bagaimana ia melihat batu itu mempunyai suatu hal yang aneh dan bagaimana orang-orang tertarik dengan berbagai alasan yang mereka beberkan. Satu yang pasti bahwa “adalah suatu hal yang tetap bagi manusia untuk merindu nostalgia alam ilahi diluar duniawinya” semua orang begitu tetapi dengan berbagai caranya masing-masing.

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

6 thoughts on “Batu Menangis; Melihat Fenomena Dalam Pandangan Mircea Eliade”

  1. subhanallah…
    sebagai suatu tanda kebesaran allah..
    tapi memang sih kebanyakan orang pasti lebih tertarik menciptakan cerita dibalik peristiwa2 yang tak biasa seperti hal tersebut
    salam kenal 😉

  2. sesungguhnya banyak fenomena “keajaiban” alam yang tak terjangkau oleh akal manusia. Meski demikian, manusia diwajibkan berikhtiar utk memecahkan berbagai feneomena itu dg berbagai kekuatan akal dan teori yg dimilikinya. yg tdk diperbolehkan, konon, memberhalakan fenonema “keajaiban” itu hingga mjd sumber kekuatan spiritual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *