Banjir & Jakarta: Untuk Kita Renungkan

Untuk Kita Renungkan 1

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, mungkin bisa dikata tahun 2013 adalah tahun terburuk dari keadaan ibu kota, Jakarta, dengan kejadian banjirnya. Diawal tahun 2013, hal tersebut mengisyaratkan satu pesan penting bagi semua warga Jakarta khususnya dan umumnya seluruh umat manusia agar lebih waspada terhadap tindak tanduk cipta karya manusia.

Banjir yang melanda ibu kota sekarang tidak jauh kemungkinannya apabila saya mengatakan hal itu sebagai sebuah hadiah alam bagi seluruh umat manusia, yang bermukim disana, bahwa apa yang telah diberikan manusia pada Kota Jakarta masih perlu dikaji ulang. Baik itu dilihat dari bagaimana kinerja pihak pemerintah dalam menanggulangi banjir sedari dini ataupun dari masyarakat/warga Jakarta dengan kinerjanya mengamalkan aturan yang dibuat pemerintah dan aturan alami yang harus ditegakan.

Saya bukannya tidak memiliki sikap berempati terhadap warga Jakarta yang sedang mengalami musibah banjir. Justru sebaliknya rasa empati yang saya dapatkan itu mungkin mendapat sebuah jalannya melalui sebuah tulisan yang akan disajikan disini.

Hal ini perlulah untuk dikemukakan sebagai sebuah wujud jawaban apabila ada seorang pembaca yang mempunyai pikiran sinis macam “Orang sedang terkena musibah, ini malah menyalahkan sebab akibatnya.” Karena untuk membicarakan sebab dari bagaimana musibah banjir tersebut terjadi bukan tidak mungkin bahwa manusialah yang pertama kali harus dipertanyakan, bagaimana mungkin?

Meskipun begitu sekarang banjir sudah dimuka, kita yang tak menyangka kedatangannya seperti sedang terengah-engah untuk melawannya. Air yang berlabuh pada tempat yang tak terduga adalah sebuah keniscayaan dari sebuah jawaban dasar terhadap, bagaimana, manusia memperlakukan alam sekitarnya.

Hal tersebut adalah sesuatu yang harus direnungkan bila kita tak ingin sesuatu yang lebih besar terjadi dikelak hari. Mempertanyakan kembali bagaimana mungkin lebih dari 15ribu warga Jakarta menjadi pengungsi banjir dan 5 orang menjadi korban adalah sebuah bekal untuk mendapatkan jawabannya didepan. Sebagai sebuah modal untuk kita renungkan.

Manusia & Alam

Pertama kali yang harus kita pegang teguh dihati adalah dengan menyadari bahwa kehidupan kita itu ialah sebagai seorang utusan yang diperintah untuk menjaga keharmonian manusia & Alam. Hubungan timbal balik dari kedua elemen tersebut menjadi sebuah aktifitas yang melingkar terus menerus dan tak pelak dari keadaan tersebut seorang manusia bisa menjadi seperti sekarang ini.

Karena alam memberi suatu anugerah yang tak terhingga, kita seharusnya patut untuk memberi rasa hormat yang diaplikasikan dengan memegang teguh cipta kersa sang Maha Agung. Keberadaan alam memanglah seperti sebuah bayangan yang selalu datang sepintas dalam benak manusia. Artinya mereka selalu terpikirkan dengan sebuah penyesalan ketika sesuatu yang besar terjadi menjadi tragedi buat kemanusiaan.

Rasa hormat memanglah ada tapi keadaannya selalu hening bila manusia telah lupa seiring roda bumi yang berputar. Pemandangan sampah yang menimbun tinggi, membusuk pada udara yang seharusnya segar, menyebar air yang mematikan bagi ekologi setempat adalah sebuah dialektika yang buruk bagi pertemuan manusia dan alam.

Sampah yang meninggi itu tak pelak bermula dari sikap yang tak mau tahu bila kelak semua telah menjadi timbunan yang sedikit. Semisal bila hutan diam ketika penopang-penopangnya ditebas manusia hal  itu bukan berarti ia diam tak bermakna akan tetapi ia diam menunggu kita yang terus serakah untuk menebangnya.

Alam memanglah tak begitu jikalau kita tak membuatnya seperti itu. Jika ada orang yang mengatakan bahwa penyebab banjir adalah meluapnya sungai, bendungan yang tak kuat menahan laju/debit yang meninggi, atau tanah yang lelah dari terpaan gadah besi yang menopang diatasnya maka siapa yang memang pantas untuk disalahkan?

Mulailah Mengenal Sekaligus Menghargai Alam

Sampah yang meninggi tak pelak menjadi sebuah penghambat aliran air yang seharusnya mengalir lancar ketepi. Sampah juga disinyalir menjadi pemicu dari bagaimana got-got yang ada dijakarta tak berfungsi sebagaimana mustinya. Penggenangan air yang terjadi akibat terhambat sampah memunculkan beberapa hal yang tak diharapkan manusia seperti penyakit dan bencana banjir.    

Keadaan demikian, seperti sudah dikatakan dimuka, hanya tinggal menunggu waktu yang pas untuk mengetahui sejauh mana alam memberi jawaban pada kita. Ditambah pula dengan keadaan tanah yang terlihat lelah dan tak bisa bernafas menahan beban-beban gedung yang meninggi membuat sedikit lebih sempurna bila disandingkan dengan keadaan diatas. Oleh karena itu sistem tata letak haruslah menjadi faktor dimana semua itu bisa diatasi. 2

Mengenal dimana kita berpijak seharusnya menjadi indikator kita untuk memahami sekitar. Dalam hal ini warga Jakarta haruslah senantiasa mengenal diri dan alam sekitar mereka tinggal. Jakarta adalah dataran yang boleh dikata dataran rendah, hampir 40 persen datarannya berada dibawah laut pasang, disekitarnya terdapat 13 sungai yang mengalir. 3 Tak sampai disitu warga Jakarta juga harus menyadari bahwa kota ini adalah kota yang memiliki tingkat pertumbuhan yang tinggi sehingga penyempitan ruang-ruang pun tak terelakan, bahkan disamping sungaipun sebagian warga rela untuk tinggal.

Kondisi seperti itu haruslah menjadi sesuatu bekal berharga buat warga Jakarta khususnya atau semua warga di Indonesia secara umum. Mulailah dari kesadaran diri sendiri untuk mengenal alam sekitar untuk menghindari budaya sikap acuh tak acuh. Budaya yang tak menghargai bagaimana ketika keadaan selanjutnya terjadi akibat dari diri yang tak mau mengenal potensi.

Selain itu dengan mengenal apa yang harus menjadi bekal bisa menjadi sebuah pengingat dimasa senang. Melihat kepada sesuatu yang telah terjadi adalah sebuah pelajaran berharga untuk menjadikan diri sendiri sebagai seorang yang tak memiliki budaya buru-buru, artinya tidak cepat lupa ketika senang membiaskan sedih. Dan selanjutnya adalah dengan mengenal alam dan menghargainya diharapkan kita terhindar dari sikap yang mengelakan sesuatu yang harus diperhatikan.

Sebagai Penutup

Sebagai kata yang terlontar diakhir izinkan saya menghadirkan ayat Al-quran yang mungkin bisa menjadi sebuah pesan abadi untuk kedepannya.

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). [Q.S. 30:41]

Referensi:

  1. Dengarkanlah lantunan Ebiet sambil membaca ini hhe
  2. Seharusnya belajar dari Banjir yang melanda India
  3. Team Mirah Sakethi, 2010. Mengapa Jakarta Banjir, Pt Mirah Sakethi.

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

10 thoughts on “Banjir & Jakarta: Untuk Kita Renungkan”

  1. Sepertinya banjir melanda Jakarta sudah dari dulu, meski ini merupakan banjir terbesar namun masalahnya tetap sama, kemana air akan dibuang dan bagaimana supaya jakarta tidak lagi dilanda banjir.

    Piye Pak Jokowi???

    1. Mungkin kesadaran adalah cara pertama dan yang setelahnya adalah bagaimana kesadaran itu dilakukan dikehidupan yang nyata 😀 hhe
      Pak jokowi, diharapkan bisa mengatasinya dan jangan lupa untuk membantu dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *