in Bahasa

Bahasa Itu Bermakna Kalau Kita Tahu

Ketika saya hendak merebahkan tubuh terlentang menantang langit, mata saya seperti dirayu oleh gambar-gambar yang menempel dilemari baju tepat didepan mataku. Sontak terasa padaku mengapa mataku terfokus pada apa yang ada dihadapanku. Kenapa begitu demikian? Karena semuanya seperti beriringan dan berjalan sesuai jalur apa yang saya hendaki. Apa yang saya sedang pikirkan pada waktu terlentang itu serasa terjawab hanya pada sebuah gambar yang ada terletak dilemari baju.

Apa yang dihadirkan oleh gambar dilemari tersebut bukan hanya seolah sesuatu yang mati tak hidup sekalipun. Gambar tersebut lahir mungkin sama persis ketika seorang Barthes melihat gambar seorang negro yang terlihat sedang hormat pada bendera Perancis, gambar tersebut mungkin lahir sama persis ketika kita melihat gambar seorang presiden Soeharto sedang menandatangani sebuah perjanjian dengan IMF.

Gambar yang saya lihat itu seperti sebuah realita yang terkotakan, tersimpan dalam kisah dalam bingkai, tersimpan rapi dalam setiap coretan disetiap sudut stiker itu. Realitas itu seakan menunggu untuk disentuh olehku, realitas tersebut muncul ketika mataku, mata hatiku, mata didalam mataku serontak bergumam “Hey sentuhlah dia”

Dibalik Kisah Bingkai (Dibalik Simbol Yang Kau Elakan)

Pada akhirnya perasaan yang penasaran ini sudah memuncak bahkan sudah menjelimet, membawa saya kepada sebuah arti yang harus didapat dengan mengurai beberapa jalan-jalan yang berliku. Yang harus legowo membuka mata retas, mata elang untuk melihat sesuatu lebih mendalam, bukan hanya mata perkutut yang melihat sesuatu itu hanya dalam kurung yang terkungkung!!

Dibalik simbol yang terpampang digambar itu adalah sebuah makna yang hanya bisa diterka oleh para manusia yang mempunyai segala aktivitas fakta-fakta yang sudah menjadi konvensi sebuah komunitas. Apa yang saya lihat ketika terlentang itu bukan hanya sebuah gambar dengan kata-kata saja, melainkan sebuah gambaran makna yang tersimpan rapi didalam pikiran kita, yang pada akhirnya akan tersentuh lagi ketika sebuah fakta yang pernah saya dan komunitas alami mengunjungi seketika.

Bahasa itu bermakna yang nampak padanya gambar itu bermakna kalau kita tahu, dan karena makna itu terletak pada pikiran maka hanya pada pikiranlah batas makna-makna semua orang itu bisa dibedakan. Bila disajikan sebuah gambar tepat dihadapanku maka penafsiran-penafsiran berbeda akan menjadi sebuah keniscayaan yang pasti ada. Karena realitas yang terdiri dari fakta yang didapatkan oleh setiap orang itu akan berbeda-beda maka akan berbeda pula setiap orang didalam menafsirkan sesuatu.

Gambar yang terpampang itu adalah sekumpulan fakta yang mempunyai makna-makna didalam-nya. Barangkali seorang barthes didalam kumpulan artikel-artikelnya yang berjudul “The Photoghraphic of Message” dan “Rhetoric of Image” pernah menjelaskan bahwa didalam sebuah gambar itu mengandung sebuah pesan simbol (Code Iconic Message) yang ditujukan untuk membuka tabir hitam yang besangkut pautan dengan gambar yang pernah dialami dengan pengetahuan yang ia tahu mengenai gambar yang dilihat.

Begitu juga Wittgenstein pernah mengemukakan teori penting yang pada akhirnya teorinya itu dibantah oleh dirinya sendiri. Teori tersebut kita tahu sebagai “Meaning is Piture” yang dijelaskannya didalam buku Teracttus. Apa yang dijelaskan Wittgenstein itu adalah dibalik gambar yang sering kita lihat itu ada sebuah dunia yang padanya ada realitas yang tersusun oleh fakta-fakta bukan benda.

Manusia dan Realitas

Thomas Hobbes pernah dibuat pusing memikirkan kenapa peradaban/pengetahuan manusia itu berkembang? Pusingnya ini sampailah pada sebuah pelabuhan dimana seorang Thomas Hobbes menemukan sebuah jawaban yang sangat rumit. Tak lain hasil perenungannya berujung pada jawaban bahwa manusia itu memungkinkan berkembang karena manusia itu mempunyai kemampuan yang terletak pada penandaan secara simbolik didalam realita kehidupan. Oleh karena itu pula mungkin seorang Ernest Cassirer pernah berujar didalam bukunya (An Essay on Man) Human is animal Symbolicum.

Seperti itulah mungkin ketika saya berpikir bila disajikan sebuah gambar HP Blackberry, dan ada seorang wanita yang hendak bertanya tentang gambar tersebut maka jawaban saya dengan pengguna blackberry akan sangat berbeda. Karena batas realitas saya mengenai balckberry itu sangatlah dangkal, fakta-fakta yang bisa dihadirkan hanya sebatas pada tataran permukaan saja.

Berbeda dengan seorang pengguna blackberry yang akan menjawab secara detail apa yang dilontarkan oleh wanita itu. Sontak kita bisa kembali lagi pada pemikiran barthes diatas, dikatakan bahwa sebuah code iconic message alias pesan simbolik!! Dan karena menurut Barthes pesan itu tidak bisa kita dapat secara mudah, maka harus ada sesuatu yang mampu membuka tabir hitam tersebut, yaitu menghubungkan pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pemilik Hp itu.

Makanya jawaban seorang pengguna blacberry itu lebih luas dan bermakna daripada jawaban yang dilontarkan saya, yang notabennya bukan sebagai seorang pengguna blackberry, sebagai hasil dari proses simbolisasi dalam hidup dan kehidupannya. Saya dengan pengguna blacberry berbeda loh!! Saya tidak pernah berusaha untuk masuk ke dunia blacberry, makanya realitas yang dihadirkan oleh blacberry tidak pernah nampak padaku. Maka benarlah juga bila witigenstein menjelaskan pengertian “Meaning is Picture”. Dibalik picture itulah sebuah realitas yang terdiri dari fakta berada.

Kemampuan simbolis manusia memang manusiawi namun nyatanya akan ada perbedaan kemampuan yang ada pada manusia. Bila benar begitu maka benar bila ada seseorang yang mengatakan: “Oleh karenanya apabila kita ingin mengetahui realitas terdalam dari hidup dan kehidupan manusia hendaknya kita telurusi dari kemampuan simbolisnya ini”. Wittgenstein didalam kalimat hebatnya juga pernah mengatakan bahwa batas bahasaku adalah batas duniaku (Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meiner Welt). Maka benarlah bila kemampuanku untuk mejawab pertanyaan yang dilontarkan oleh seorang wanita tadi terbatas pada apa yang telah saya tahu, ketidak inginan dari dalam diri menembus realita membuat saya akan menjadi seorang manusia lemah yang kalah oleh seorang pengguna blackberry yang kemampuan menjawabnya lebih bermakna daripada saya. Maka benarkah bila saya berkata, bahasa itu bermakna/gambar akan bermakna kalau kita mengetahui?

*Puji syukur kepada Allah Maha Mulia atas segala rizki yang selalu berlimpah padaku.
Semoga bermanfaat tulisannya yah.

19 total views, 1 views today

Tinggalkan pesan

Comment