in Agama

Tulisan ringan ini berangkat dari kekhawatiran penulis mengenai fenomena LGBT yang akhir-akhir ini masih marak dibicarakan. Penulis sebenarnya, bisa dibilang, mengikuti isu ini sedari awal. Dalam tulisan terdahulu, yang bisa diakses dengan judul “LGBT: Zaman Beredar Riwayat Berulang”, setidaknya dipaparkan mengenai bagaimana makna sejarah ditempatkan pada interperetasi masing-masing.

Baik yang mendukung dan yang tidak mendukung LGBT mempunyai pemaknaan tersendiri mengenai sejarah. Di satu sisi sejarah, atau kejadian masa lalu, bisa ditempatkan pada posisi untuk memperkuat pemahaman orang-orang dalam menolak kehadiran LGBT namun di sisi lain sejarah juga bisa menjadi bumerang bagi sebahagian orang yang menolak mengenai hegemoni dari definisi yang telah lalu.

Seiring waktu ternyata fenomena LGBT ini semakin tajam dan semakin banyak dibicarakan baik diranah media atau dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai pemerintah, dalam hal ini, dibikin pusing kepayang untuk menentukan kebijakan-kebijakan terkait LGBT.

Sikap Penulis Terhadap LGBT

Anti-Gay-Born-Again-SignPenulis, secara pribadi, tidak seiring dengan mereka yang mendukung LGBT meskipun berbagai alasan atau pengelakan banyak dikemukakan mereka. Kalau benar alamiah, apa alamiah adalah kemutlakan yang harus di Tuhankan? Kalau benar bukan penyakit, apa sejarah kaum Nabi Luth hanya dianggap sebagai mitos atau cerita tidur semata? Guys, if you have a reason, so we have too.

Kalau benar mereka mempertanyakan Pancasila, apa Pancasila itu milik mereka dengan sejuta bahasa kemayu, terlalu humanis mungkin, yang membuat hati kita luluh? Jawabnya tidak. Pancasila itu terbuka untuk siapa saja yang menginterpretasikan dan ia tidak terkait Ideologi manapun. Akan tetapi jangan lupa bahwa Pancasila kita mempunyai nilai historis religius yang tidak bisa dibantahkan.

Ada juga alasan yang mempermasalahkan definisi tradisionalis, konservatif, modernis dan lain-lain. Mereka yang pro terhadap LGBT mungkin akan alergi dengan sikap yang datang dari orang yang beragama atau dari kalangan awam yang mereka anggap konservatif.

Mereka seolah memposisikan dirinya berada diantara orang yang sedang mempertanyakan doktrin teologi terhadap LGBT. Disinilah peran pemahaman manusia zaman sekarang terhadap manusia bisa dilihat. Periode sekarang bisa disebut periode dimana terdapat keinginan untuk menghancurkan pelbagai dikotomi yang telah menghegemoni, salah satunya adalah aturan dari pernikahan antara laki-laki dan perempuan.

Jangan salah, mereka yang selalu berada dalam barisan ini, Tuhan pun dipertanyakan atau bahkan dikatakan mati. Apalagi hukum-hukum yang berlaku terhadap manusia, yang datang dari agama. Pendeknya doktrin yang mengekang kebebasan manusia pada waktu itu menjadi satu ketakutan yang harus ditaklukkan. Tentu kalian masih ingat ketika periode manusia menjelma menjadi satu kekuatan penuh dengan mengeyampingkan sisi religius? Kapan ini terjadi dan dimana ini terjadi ?

LGBT tidak seperti yang seharusnya. Perputaran peradaban, meski penulis tidak mengatakan tidak ada sama sekali yang LGBT pada rentan waktu tersebut, nyatanya banyak dinahkodai oleh kisah menakjubkan antara laki-laki dan perempuan. Bahkan secara normal, tanpa kerumitan untuk menanam dan menyewa Rahim, dari merekalah peradaban secara turun temurun berlangsung.

Antara Penulis dan Film Solace

Bila yang mendukung LGBT adalah atas dasar kemanusiaan maka saya juga menjadi orang yang menolak LGBT atas dasar kemanusiaan. Lalu kenapa kemanusiaan antara penulis dan mereka yang mendukung LGBT itu berbeda? Jawabnya yah itu tadi, bila diperjelas lagi bahwa kemanusiaan yang dipegang penulis adalah berdasarkan Ketuhanan bukan kemanusiaan yang terlalu manusia beudh.

Barangkali film Solace yang keluar pada tahun 2015 kemarin bisa memperjelas sikap penulis terhadap LGBT. Film yang kayanya agak futuris dan masa laluis ini menceritakan dua orang tokoh utama yang mempunyai kekuatan membaca kejadian-kejadian yang sudah dan belum terjadi.

Tokoh pertama adalah John Clancy (Anthony Hopkins) yang berperan dipihak kebenaran. Sedangkan satunya lagi adalah Charles Ambrose (Colin Farell) yang berada dipihak yang jahat. Mereka berdua dikaruniai indera keenam yang tak biasa dimiliki oleh orang lain. baik Clancy dan Ambrose, keduanya memiliki kekaguman masing-masing terhadap kekuatan yang mereka punya.

Keduanya dipertemukan dalam kasus pembunuhan berantai yang sulit dipecahkan oleh kepolisian. Clancy menduga bahwa yang melakukan pembunuhan berantai tersebut adalah orang yang memiliki kekuatan yang sama dengan dia. Sampai akhirnya keduanya bertemu dan diketahuilah berbagai alasan yang dilakukan Ambrose untuk membunuh para korbannya.

Ternyata motif dibelakang pembunuhan berantai tersebut adalah sebuah keinginan Ambrose untuk mematikan seseorang karena sebuah penyakit. Ia bernaggapan bahwa daripada orang tersebut menderita hidup didunia, karena penyakit yang ada dalam tubuhnya, lebih baik ia matikan seseorang tersebut dengan tanpa rasa sakit.

Clancy tentu berbeda dengan Ambrose. Ia lebih memilih untuk mempercayai kehidupan yang dijalani walau akhirnya kejadian buruk bisa terjadi. Daripada harus bersikap sewenang-wenang seperti yang dilakukan oleh Ambrose. Mungkin dia beranggapan bahwa penyakit tersebut mungkin bisa disembuhkan dengan tanpa membunuh orangnnya.

Apa yang terjadi pada Clancy inilah yang menjadi pegangan penulis terkait fenomena LGBT. Sebagai seorang manusia saya harus berdialog dengan mereka mengenai arti kehidupan. Penulis tidak bisa semena-mena membenci mereka karena yang penulis benci dari mereka hanya kesalahfahaman dalam mengartikan pernikahan semata.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment

  1. Heaven (ZION) or hell (BABYLON) exist right in front of us in the same space and either is there for our choosing. They are both accessed in different vibratory frequencies. This might be greek to many.Former Mayor of Chillicothe, MissouriJeff Foli660.247.1700

  2. Hey Lee,Awesome! Thanks for spreading the word.. Hopefully you will fall in love with our first release and then become addicted as we come out with more titles…. and congrats on the marriage and baby… I know I know… been a long time since we have talked! Facebook me!