Andrejuk Dan Imigran Turki Di Jerman

Tulisan ini ialah sebuah critical review dari salah satu tulisan // Jurnal yang membahas tentang isu kewarganegaraan imigran Turki di Jerman. Adalah Katarzyna Andrejuk seorang penulis, sekaligus seorang ilmuwan, berkebangsaan Polandia yang banyak menulis tentang Imigrasi, multikultularisme dan tentang Eropa.

Termasuk salah satunya adalah jurnal yang berjudul “Muslim Immigration and Its Influence on The Redefinition of Nationhood in Germany” yang dikeluarkan pada laman Studia UBB Sociologia LVIII, 1, 2013, pp. 39-54. Sebagaimana diutarakan diatas, jurnal ini membahas isu yang berkaitan dengan adanya problema imigrasi yang terjadi dibelahan bumi Eropa, dalam kasus ini fokus yang ditujukan penulis adalah Negara Jerman dengan beberapa permasalahan yang dihadapi terkait imigrasi.

Secara garis besar jurnal ini banyak menjelaskan tentang bagaimana sebuah Negara mengalami suatu pendefinisian ulang mengenai status kewarganegaraannya. Jerman, sebagai salah satu contoh, telah memiliki peraturan khusus untuk hal tersebut namun seiring dengan waktu maka hal itupun mengalami sebuah pendefinisian ulang atau redefinisi.

Klaim dari penulis dalam jurnal ini terletak pada bagaimana nantinya proses imigrasi yang berkala ini akan berpengaruh pada kebijakan pemerintahan meskipun ia telah memiliki peraturan khusus yang telah lama diciptakan.

Dengan menggunakan pendekatan sosiologis, artinya menggunakan pendekatan teori-teori sosiologi, penulis berusaha menerangkan hal ihwal mengenai proses imigrasi orang-orang Turki antara tahun 1960 – 1970, yang dimana pada rentang waktu tersebut berimbas pula pada roda pemerintahan sekarang.

Fokus permasalahan penulis adalah bagaimana keadaan para imigran Turki bisa diterima, atau sukses, menjadi sebagai kewarganegaraan Jerman dan apakah hal tersebut berdampak pula pada perekenomian para imigran Turki?

Adapun kesimpulan yang ditemukan oleh peneliti didapatkan setelah melalui berbagai penjelasan-penjelasan terkait hal yang berhubungan dengan permasalahan yang dipertanyakan.

Dalam jurnal tersebut penulis awalnya menyinggung dan membahas tentang kewarganegaraan dilihat dari bingkai sosiologi setelahnya penulis membahas mengenai sejarah awal mula orang-orang muslim di Jerman lalu menganalisis bagaimana orang muslim bisa bersaing // berperan dalam dunia pasar atau lowongan kerja sebelum akhirnya penulis mulai masuk pada pembahasan yang substansial yakni dampak dari para imigran terhadap hokum dan perubahan status kewarganegaraan di Jerman.

KATARZYNA ANDREJUK, DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI

Ada beberapa periode yang selalu menghantui dunia keilmuan, umumnya, atau filsafat, khususnya. Dikatakan sebagai hantu oleh karena periode tersebut selalu dibahas mengenai permasalahannya lalu dicari bagaimana solusi untuk mengganti hal tersebut. Sebut saja periode tersebut dengan tradisionalisme, modernisme dan postmodernisme.

Ketiga periode itu dibarengi dengan suatu gerak melingkar dari beberapa kritikan tajam terhadap hal-hal yang diyakininya bersifat mendasar. Sebut saja ketika para filsuf modernisme mencoba untuk mengurai permasalahan-permasalahan pelik dari periode tradisionalisme dan begitu pula sebaliknya ketika para filsuf postmodernisme mencoba untuk meredefinisi berbagai hal mengenai klaim yang diberi cap modernisme.

Diantara permasalahan peralihan periode tersebut maka sesungguhnya dinamika perubahan tengah berlangsung didalam kehidupan manusia. Karena mereka itu, para filsuf atau Ilmuwan, tidaklah berbicara atas sekehendak mereka akan tetapi dengan memaparkan beberapa bukti // permasalahan atau temuan yang bisa dijadikan sebuah sandaran. Inilah pendapat pribadi saya seketika membaca jurnal yang ditulis Katarzyna Andrejuk tentang imigrasi orang-orang muslim dan dampaknya terhadap kebijakan kebangsaan di Negara Jerman.

Dalam jurnal ini penulis tidak hanya ingin menguraikan beberapa permasalahan melainkan ia ingin juga mengajukan solusi. Ini barangkali menggambarkan dengan tak gamang bahwa ketika dekonstruksi diutarakan maka rekonstruki diajukan. Pertanyaannya sekarang lalu apa yang bisa dijadikan bukti untuk pendapat ini?

Pertama, penulis dalam jurnal ini, khususnya pada pembahasan “Citizenship and participation: overview of sociological approaches” menjelaskan tentang oposisi biner yang ada di Negara Jerman. Sebagaimana dijelaskan bahwa identitas kewarganegaraan di Jerman bisa dijelaskan dengan dua hal. Pertama ia menyangkut tentang pandangan etnis tradisional bahwa kewarganegaraan di Jerman tentu dibatasi oleh batas-batas politik tertentu seperti orang asli Jerman, bahasa atau darah.

Lalu yang kedua, dan tentu berbeda dari yang pertama, adalah apa yang dikenal juga dengan postnational community // membership yaitu suatu bentukan komunitas yang dibuat khusus untuk para imigran Turki yang ada di Jerman. 1

Sebuah keniscayaan oposisi biner adalah adanya suatu doktrin mendasar tentang hal yang baik dan buruk, tinggi dan rendah, bagus dan jelek, pintar dan bodoh dan lain-lain. Hal ini berimbas pula pada wacana-wacana imigrasi di Jerman, khususnya ketika penulis membahas tentang adanya klaim bahwa orang-orang asli Jerman lebih baik daripada orang imgiran muslim atau bahkan disinggung pula bahwa para imigran are less educated. 2

Hal ini mungkin didasarkan pada ihwal sejarah para imigran Turki yang pada waktu awal kedatangannya ke Jerman hanya menjadi perkerja tamu atau gestarbeiter. Lebih lanjut pada jurnal ini dibahas pula tentang keadaan para imigran yang senantiasa mendapat suatu kedudukan rendah dibanding tuan rumah oleh karena para imigran tidak dengan fasih, atau tidak fasih sama sekali, untuk belajar bahasa Jerman.

Permasalahan-permasalahan yang menyangkut tentang perbedaan kedudukan kedua posisi yang berbeda tersebut ternyata menjadi perhatian pemerintah, yang mana mereka mempunyai keinginan untuk mengintegrasikan para imigran.

Belum lagi terdapat satu masalah yang penting, yang mungkin tak bisa dikesampingkan, menyangkut keadaan para imigran yang berasal dari Asia. Hal tersebut mengemuka setelah para imigran dari Rusia datang dan menetarp di Jerman. Kedudukan mereka yang sama seperti para imigran tapi mempunyai sedikit hubungan dengan Jerman dipandang berbeda dengan para imigran yang telah lama hadir di Jerman.

Dengan demikian maka adanya perhatian dari pemerintah, khususnya oleh Partai Sosial Demokrat dan Partai Hijau, pada akhirnya bisa membuat para imigran bernafas lega. Segera setelah melalui beberapa perenungan dan pertimbangan maka sedikit demi sedikit hegemoni Jus Sanguinis bisa diruntuhkan dengan Jus Suis pada tahun 2010.

Adanya hukum baru tersebut setidaknya bermanfaat bagi para imigran meski hanya anak-anak yang telah berumur 8 tahun, dari ke dua atau ketiga generasi para imigran, yang bisa mendapatkan kedudukan tersebut. Itupun mereka harus memilih antara Negara Jerman, bersamaan dengan syarat menaati semua hukum-hukum demokrasinya, dengan memilih Negara dimana ia berasal.

Syarat lain yang tak boleh dipinggirkan adalah ketika kebijakan tersebut direvisi pada tahun 2007, yang mana para imigran tersebut harus juga mempunyai pengetahuan berbahasa Jerman.

Dalam jurnal ini dibahas juga tentang keadaan para imigran setelah ditetapkannya peraturan tersebut. Ada berbagai kemajuan yang dialami para imigran, khususnya para imigran dari Turki, dalam berbagai hal misalnya dalam pendapatan lapangan perkerjaan yang meningkat sampai pada peran penting para imigran yang berpartisipasi dalam dunia politik Jerman.

Hal diatas menunjukan bahwa dengan adanya system integrasi politik terkait kewarganegaraan di Jerman bisa berjalan secara berkelindan, saling melengkapi dan saling memenuhi.

Akan tetapi hal yang selalu muncul dalam setiap kebijakan ialah suatu perlawanan atau pertentangan. Ini bisa disandarkan pada orang-orang yang masih menganggap orang timur, khususnya orang Islam, sebagai “the other” atau liyan. Mereka masih saja berpendapat bahwa kedudukan pribumilah yang masih tinggi dan para imigran rendah.

KESIMPULAN

Jurnal ini adalah sebuah upaya penulis untuk membahas dan menguraikan permasalahan pelik dan berkala yang menyangkut imigrasi berserta dampaknya terhadap hukum kewarganegaraan di Jerman.

Penulis jurnal ini meyakini bahwa hukum apapun itu, bila menyangkut kemaslahan manusia, bisa berubah karena tergantung pada perubahan demografis didalam masyarakat . Dari yang bersifat tradisional menuju pada sifat yang lebih modern dan dinamis.

Mendekonstruksi hegemoni yang telah mapan dengan berbagai pertimbangan dan menawarkan suatu rekonstruksi, melalui pembahasan akademis, penulis jurnal setidaknya telah berhasil memberikan satu wacana baru bagi dunia pendidikan, pada khususnya, dan para imigran, pada umumnya.

Referensi:

  1. STUDIA UBB SOCIOLOGIA, LVIII, 1, 2013, pp. 42
  2. STUDIA UBB SOCIOLOGIA, LVIII, 1, 2013, pp. 43

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *