in Internasional, Jejak Islam

Akhir Dari Ratko Mladic, Penjagal Muslim Di Balkan

Hari rabu tertanggal 22/11/2017 sepertinya menjadi hari-hari yang kelam nan menyedihkan bagi Ratko Mladic. Penjahat perang yang telah lama “buron” ini akhirnya dijatuhi hukuman penjara seumur hidup di masa akhir hidupnya yang sudah menua. Di sisi lainya nampaknya kegembiraan sedang nampak pada ribuan warga muslim di Balkan, khususnya warga Bosnia atas penangkapan pria tua yang pernah dijuluki si penjagal itu.

Diantara yang berbahagia itu ialah seorang wanita yang sudah tidak muda lagi, namanya Saliha Osmanevic. Meski umurnya sudah tua akan tetapi ingatan akan kebengisan tentara Serbia yang waktu itu membantai kaum muslim di Bosnia masih teringat jelas. Apalagi ia mengalami masa dimana ia melihat suaminya dan anaknya hidup sebelum direkam dan dibunuh. Setelah semua yang dia lakukan,” kata Saliha, “akhirnya hari ini tiba, detik ini tiba, menit ini tiba untuk menegaskan bahwa hal itu pernah terjadi. Dia bersembunyi bertahun-tahun, tapi dia tidak dapat tersembunyi terus.” 1

Kebahagiaan itu barangkali hal yang sangat ditunggu oleh warga Bosnia, pasalnya mereka tidak rela bila melihat ada seorang penjagal Srebrenica atau pembunuh 8000 orang muslim Bosnia di Srebrenica 2 bisa hidup seperti orang biasa yang tidak mempunyai beban.

Dengan divonisnya Penjagal tersebut menandai akhir kisah tragis dari perang yang pernah terjadi di daerah Balkan pada rentang waktu 1990-1995-an. Kejahatan perang pasti selalu memakan korban, apalagi perang ini bersangkutan dengan rasa ingin membinasakan atas nama dialektika sejarah yang tertasbih di dunia. Tentu hal ini terjadi di Balkan sana.

Ingatan Masa Lalu & Keinginan Masa Depan

Semua manusia dibumi ini pasti mempunyai masa-masa yang telah dilalui. Serpihan-serpihan ingatan tersebut akan membentuk watak dan karakter seseorang dalam menjalani masa-masa yang akan dilaluinya. Begitulah yang nampaknya hadir pada diri Rakto Mladic, Penjagal muslim di Balkan. Tumbuh dan besar di wilayah yang syarat akan historis peperangan tersebut, menumbuhkan karakter yang sinis terhadap etnis berlainan. Kelak rasa sinis itu benar-benar menjelma menjadi kebuasan manakala Ratko Mladic dipercayai menjabat sebagai seorang jendral di tubuh militer Serbia. Masa lalu apa kiranya yang membuat Ratko Mladic merasa sangat benci terhadap kaum Muslim?

Untuk melihatnya tentu kita harus menengok kembali kepada masa lalu, lebih tepatnya pada abad 15. 3 Abad-abad ini masih menyisakan satu kekhalifahan besar Islam, yaitu Turki Utsmani. Pada masa dinasti ini pula salah satu wilayah penting dari kekuasaan Romawi takluk, yakni Kostantinopel. Penaklukan itu pada akhirnya mengubah peta dominasi Islam.

Dinasti Turki Utsmani merupakan salah satu dinasti terkuat yang pernah dimiliki Islam baik dari segi budaya, politik dan kekuatan militer. Sepanjang sejarah peradaban Islam, bangsa Turk memang sangat kuat dalam bidang militer, bahkan sebelum dibentuknya dinasti Turki Utsmani, bangsa Turk selalu dijadikan panglima dan pasukan oleh dinasti Islam sebelumnya. Maka tidaklah berlebihan kalau saya menyebutkan bahwa dinasti ini merupakan salah satu dinasti yang sangat berpengaruh terhadap penyebaran Islam, salah satunya ketika dinasti Turki Utsmani berhasil menguasai hampir semua daerah yang dikenal dengan Balkan.

Pada saat tapuk kepemimpinan dipegang oleh Sultan Murad 1 4. Daerah Balkan, selain Yunani, Macedonia, menjadi wilayah yang dikuasai oleh Turki Utsmani. Selain daerah Utara, hegemoni Turki Utsmani juga mampu meluluhlantahkan benteng pertahanan terakhir kerajaan Romawi di Konstantinopel (sekarang Istanbul). Kemenangan-kemenangan tersebut tentunya bukan kemenangan yang mudah, melainkan dengan melalui perjuangan, peperangan dan pengorbanan. Sedikitnya hal ini membuat dinasti Turki utsmani lebih percaya diri dalam meluaskan kekuasaanya.

Di Balkan sendiri, dinasti Turki Utsmani mampu bertahan 5 abad lamanya. Dan selama kekuasaan tersebut, peperangan antara Turki Utsmani dan orang-orang yang masih bertahan untuk berontak kerap terjadi meskipun kemenangan pada waktu itu berakhir pada kekuasaan dinasti Turki Utsmani.

Keniscayaan Peradaban dan Dialektika Sejarah

Cerita mengenai peradaban di bumi, pasti yang menjadi salah satu kisah sejarah yang terulang adalah bangun dan runtuhnya peradaban itu. Mengenai keruntuhan-keruntuhan peradaban itu sudah diamini oleh Ibnu Khaldun atau oleh Arnold Toynbee dalam buku babon mereka berserta alasan-alasan keruntuhannya tersebut. Termasuk dalam hal ini menimpa dinasti Turki Utsmani sendiri yang lambat laun kekuasaanya mulai menyurut. Pada abad ke-20 atau sekitar tahun 1912-1913-an peperangan kembali meletus antara Turki Utsmani dan beberapa wilayah, seperti Serbia & Montenegro, Bulgaria dan Yunani.

Berbeda dengan pada periode penaklukan pertama yang dilakukan, Turki Utsmani pada abad 20 sungguh berbeda dengan Turki Utsmani pada abad 14-19-an. Tidak adanya karakter kepemimpinan yang kuat dan berwibawa dan berakhlaq mulia serta ketertinggalan mereka dalam inovasi dunia militer, pada waktu itu, menjadi faktor utama yang mengakibatkan kekuasaan ini meredup.

Alhasil peperangan yang terjadi antara “liga Balkan” dengan Turki Utsmani itu dimenangkan oleh pihak dari Liga Balkan dan mereka pada akhirnya menguasai Makedonia kembali setelah 5 abad berada pada kekuasaan Turki Utsmani. Konflik antara kedua belah pihak ini akhirnya berakhir di meja perundingan damai yang diadakan di London pada tahun 1913. Sebelum akhirnya Bulgaria, yang menjadi salah satu dari peserta liga Balkan, menyerang wilayah sekutunya dan mengawali rentetan perang balkan yang kedua. Peperangan yang terjadi pada masa itu ternyata bukanlah perang terakhir yang mewarnai daerah Balkan.

Pada tahun 1991-1995-an meletus kembali peperangan yang terjadi diantara pihak Serbia (diwakili oleh Ratko Mladic sebagai jendral) dan Bosnia (wilayah yang banyak dihuni oleh umat Muslim) yang berakhir pada kejadian paling mengenaskan yang pernah ada dimuka bumi, yaitu pembantaian Srebrenica. 5

Berbeda cerita dengan masa-masa sebelumnya, peperangan yang terjadi pada tahun ini merupakan akhir dari dialektika sejarah kelam yang pernah ada di Balkan. Kenangan masa lalu Balkan yang memang rawan dengan konflik rasial menjadi motivasi Ratko Mladic yang berambisi untuk menghapuskan orang muslim (yang ia anggap masih orang Turki) dari peta Balkan.

Inilah kiranya yang termasuk pada kategori catastrophe theory yang banyak dibahas para ahli sejarah saat itu. Kalau dalam bahasa penulismah teori ini merupakan upaya ingatan masa lalu yang dihiasi dengan beberapa pendapat yang menyudutkan kekuasaan Turki Utsmani. Hal ini setidaknya menyulut dendam kesumat terhadap orang-orang disekitar wilayah Balkan. Sebenarnya isi dari teori ini menyebutkan beberapa keadaan yang menyudutkan kekuasaan Turki Utsmani yang pernah bertengger selama 5 abad. Seperti contoh adalah sensus penduduk pribumi yang dikatakan menurun semenjak kedatangan Turki Utsmani. Penekanan pembayaran Jizyah yang terasa memberatkan dan lain-lain.

Perlu diingat pula bahwa terdapat teori lain, terkait dengan tanggapan orang-orang atau para ahli terhadap kekuasaan Turki Utsmani selama 5 abad itu. Teori ini yakni Soft Theory yang lebih fair atau seimbang dalam menerangkan kebenaran sejarah yang terjadi di daerah Balkan sana.

Referensi:

  1. Lebih lanjut di https://news.detik.com/australiaplus/3738972/kisah-saliha-osmanovic-korban-kejahatan-ratko-mladic
  2. http://www.history.com/topics/bosnian-genocide
  3. Perlu dicatat bahwa penyebutan abad 15 itu berarti mengacu pada tahun-tahun 1400-1499-an.
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Murad_I
  5. Pembantaian ini disinyalir bisa disandingkan serupa dengan pembantaian yang dilakukan oleh Adolf Hitler.

Tinggalkan pesan

Comment