Pengabdi Setan: Ketidakberdayaan Agama Pada Era Orde Baru

Dekade 80-an dunia perfilman Indonesia, disatu sisi bisa dikatakan telah mengalami perkembangan, namun disisi lain tidak bisa dielakan juga bahwa film pada waktu itu telah menjelma menjadi salah satu media yang bukan menyajikan hiburan semata, melainkan ia telah bertransformasi menjadi sebuah alat yang efektif yang bisa digunakan sebagai sebuah alat perjuangan atau propaganda baik oleh penguasa atau bagi mereka yang mempunyai ideologi tertentu. Continue reading Pengabdi Setan: Ketidakberdayaan Agama Pada Era Orde Baru

Mengingat PKI

Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati

Kutipan diatas merupakan jargon keras//Yel yel yang dibuat PKI sewaktu mereka pernah hadir di Indonesia, khususnya ketika mereka melakukan pemberontakan kelam yang terjadi pada kurun waktu 1940-an. Rasanya kalau diartikan secara istilah yel-yel diatas itu bisa bermakna sangat mengerikan.

Continue reading Mengingat PKI

Antara Penulis, LGBT dan Film Solace (1)

Tulisan ringan ini berangkat dari kekhawatiran penulis mengenai fenomena LGBT yang akhir-akhir ini masih marak dibicarakan. Penulis sebenarnya, bisa dibilang, mengikuti isu ini sedari awal. Dalam tulisan terdahulu, yang bisa diakses dengan judul “LGBT: Zaman Beredar Riwayat Berulang”, setidaknya dipaparkan mengenai bagaimana makna sejarah ditempatkan pada interperetasi masing-masing.

Baik yang mendukung dan yang tidak mendukung LGBT mempunyai pemaknaan tersendiri mengenai sejarah. Di satu sisi sejarah, atau kejadian masa lalu, bisa ditempatkan pada posisi untuk memperkuat pemahaman orang-orang dalam menolak kehadiran LGBT namun di sisi lain sejarah juga bisa menjadi bumerang bagi sebahagian orang yang menolak mengenai hegemoni dari definisi yang telah lalu.

Seiring waktu ternyata fenomena LGBT ini semakin tajam dan semakin banyak dibicarakan baik diranah media atau dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai pemerintah, dalam hal ini, dibikin pusing kepayang untuk menentukan kebijakan-kebijakan terkait LGBT.

Sikap Penulis Terhadap LGBT

Continue reading Antara Penulis, LGBT dan Film Solace (1)

Melacak Jejak Bujangga Manik Di Bandung Timur (1)

Salam.

11866305_137833976555812_4640003992028941519_n (1)
Sketsa Bukit Karesi by Igun Weishaguna

Sahabat (sahabat peterpan) hehe. Kemarin teman-teman saya, atau lebih tepatnya lagi senior, melakukan perjalanan menuju gunung yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya.

Saya sendiri tidak ikut melakukan perjalanan tersebut dikarenakan adanya kesalah fahaman waktu mengenai keberangkatan – dan itu sangat disayangkan. Meskipun begitu saya tidak lantas ketinggalan info. Dengan adanya grup di media sosial nampaknya rasa penasaran untuk mengetahui apa yang telah mereka lakukan bisa sedikit terobati. Continue reading Melacak Jejak Bujangga Manik Di Bandung Timur (1)

Bertemu Kembali Mahasiswa Pasca Sejarah Kebudayaan Islam Pasca UIN Bandung

Setelah tiga bulan lamanya berdiam diri tak bertemu dengan teman sejawat perkuliahan, rasanya ada sesuatu yang hilang. Paling tidak yah rasa kehilangannya adalah rindu akan suasana kelas pascasarjana yang seringkali diwarnai berbagai perasaan he. Alhasil ketika tiba waktu perkuliahan dimulai, rasa yang membuncah itu terasa mencair manakala melihat mereka diteras-teras gedung perkuliahan.

Obrolan dari yang berbobot ringan semisal bertanya kabar atau hanya melepas senyum kangen, sampai kepada obrolan yang berhubungan dengan perkuliahan pun mulai disinggung. Continue reading Bertemu Kembali Mahasiswa Pasca Sejarah Kebudayaan Islam Pasca UIN Bandung